TOPENG

0
11
Oleh: Maulida Larasati

Langkah pertama menjajaki kampus baru, telah banyak lalu lalang orang yang menawan di depan mataku. Cantik dan tampan, kelihatan baik, berwibawa, bijaksana. Tentu saja keren dan gaul, tidak akan hal yang cacat dalam setiap hiasan wajah setiap elemen yang kulihat hari ini, semua sempurna. Hari ini memang pertama kali aku menjajaki kampus baru. Tapi, aku akan menjadi bagian diantara banyak elemen menawan itu. Dan itu akan membuatku menjadi sempurna.

“hey, kamu kesini,” panggil seseorang dengan sedikit berteriak, dari depan sebuah ruangan bercat hijau muda. Merasa terpanggil akupun menghampiri pria yang terlihat telah berumur, dan mengikutinya masuk ke sebuah ruangan.

“Ini, kamu mau pilih yang mana?” Suara serak dari mulut lelaki itu, memberiku banyak pilihan wajah yang berbeda dari topeng di atas meja. Aku hanya terdiam. Diam untuk waktu yang lama. Akhirnya, aku memilih satu topeng cantik berhiaskan hiasan cemerlang, dengan raut muka manis yang tidak mempunyai cacat sedikitpun. Kupakai topeng tersebut atas instruksi lelaki itu, dan akupun masuk ke dalam ruang kuliah baru yang telah kupilih.

Masuk ruang kuliah, aku kembali melihat banyak wajah sempurna di depan mataku, apa aku telah sama seperti mereka? Apa aku sudah terlihat sempurna? Segera setelah aku duduk di bangku nomor 3 dari depan dan paling kanan, pengajar masuk ke dalam kelas.

“Oke, sekarang kalian keluar dan masuk dengan berjongkok!”Perkataan dari pengajar, membuatku tersentak kaget, tetapi aku tetap mengikuti apa yang diperintahkan. Aku dan yang lain keluar ruangan, dan masuk lagi dengan berjongkok! Hatiku menggerutu, dan hanya bisa mengumpat tanpa suara. Aku bahkan tidak tahu apa yang aku lakukan, apa yang aku dapatkan dengan melakukan hal tersebut. Tetapi aku dan yang lain tetap melakukannya, meski hal itu selalu terjadi berulang kali.

Disaat terdengar obrolan ‘aku engga mau, aku tidak mau’, disaat itu pula semua terus mengerjakan apa yang diinginkan pengajar. Tanpa berani berkata apapun, atau lebih tepatnya topeng ini yang berusaha menutup mulutku. Menggantikannya dengan senyum manis yang terlihat seperti ‘aku anak rajin, yang akan selalu menuruti apapun, baik salah atau benar’. Hal-hal semacam itu? Otak bodohku ini hanya terus berkecamuk, tanpa mengeluarkan secuil suarapun dari balik topengku yang sempurna.
Kuliah selesai, aku segera keluar ruangan, menuju ke tempat dimana pertama kali kudapatkan topeng sempurna itu.  Tetapi ruangan itu menghilang. Cat warna hijau yang kulihat telah berganti menjadi ruangan bercat putih yang kosong. Segera kutarik topeng di wajahku, tetapi sakit.

“aaaaarrrrrrgggghhh”, aku memukulnya dengan tanganku, tapi aku hanya menyakitiku wajah dan tanganku sendiri. Topeng ini tidak bisa terlepas. Semakin kutarik, semakin merekat pada kulit. Aku hanya bisa menangis melihat topeng yang kupakai dengan wajah sempurnanya pada jendela ruangan bercat putih.

Tetapi, sekilas kulihat seseorang tanpa topeng, aku segera berbalik dan mengejarnya. Wajahnya tidak sempurna, tetapi terlihat kesempurnaan dibalik matanya yang tentu saja berasal dari wajah yang tidak bertopeng. Dia berhenti begitu melihatku mengejarnya, dan menatapku lama.

“Jangan tanya bagaimana melepasnya, itu pilihan yang harus dipilih dengan tegas,” Katanya dengan tegas sambil berlalu dari hadapanku. Bahkan sebelum aku bertanya.

Aku kembali termenung, menatap wajahku dengan marah. Saat itu juga aku akhirnya mengerti, jika aku tidak bisa melepas topeng ini, maka akulah yang harus mengubah wajahku agar topeng ini mengikutiku. Semua yang yang telah diambil, harus diatasi dan dicari tahu setiap sebab dan akibat yang akan terjadi. Akhirnya aku mengambil nafas panjang. Sambil  berjalan pelan menuju ruang kuliahku, aku tersenyum, tersenyum dibalik topeng. Sepertinya, aku sudah tau apa yang akan kulakukan di kelas nanti.

 *) Mahasiswa Ilmu Komunikasi 2013, Anggota Teater SiAnak FISIP Unsoed

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here