Ruang Kelas MIPA Dialihfungsikan Jadi Ruang Rapat

0
10
Pengumuman pengalihfungsian ruang kelas mipa
menjadi ruang rapat, yang dipasang di depan R2.1
(CAHUNSOEDCOM/Supriyatin)
Purwokerto, Cahunsoed.com – Selasa (8/11), Ruang kelas MIPA R2.1 dialihfungsikan menjadi ruang rapat oleh dekanat MIPA, sehingga ruangan tersebut tak bisa lagi dijadikan ruang kelas. Pengumuman ini terpampang di depan R2.1 pada Jumat (4/11). Akibatnya mahasiswa Fakultas MIPA yang tadinya memiliki dua ruang kelas, kini hanya memiliki satu ruang kelas yaitu R2.2.
Alasan dialihfungsikannya ruang kelas menjadi ruang rapat dikarenakan ruang rapat dekanat terlalu sempit dan tak layak untuk menyambut tamu fakultas. Hal ini diungkapkan Presiden BEM MIPA Ammar Setyo saat bertemu dengan Dekan MIPA.
“Kata pak dekan karena ruang rapat yang dulu ngga layak buat menyambut tamu asing, jadinya ruang kelas justru dijadikan ruang rapat. Tapi harusnya dekan bisa memprioritaskan mana yang lebih dibutuhkan,” kata Ammar.
Namun Dekan Fakultas MIPA yang ditemui diruangannya enggan untuk dimintai konfirmasi terkait alasan pengalihfungsian ruang kelas tersebut. “Kalo itu yang lain saja, kamu kan dari FISIP bukan mahasiswa sini,” kata Sunardi yang ditemui pada Senin (7/11) kemarin.
Ruang kelas R2.1 yang sudah dikosongkan, Senin (7/11).
(CAHUNSOEDCOM/Supriyatin)
Mahasiswa pun keberatan dialihfungsikannya ruang kelas tersebut. Hal ini akan membuat mahasiswa lebih sering menggunakan ruangan di Laboratorium Riset Terpadu. Ruangan di Lab Riset Terpadu yang tadinya menggunakan lima ruang kelas, ditambah menjadi enam ruang kelas. Padahal kondisi ruangan Lab Riset Terpadu dianggap tak layak sebagai ruang kelas.
“Belajar di Lab Terpadu itu ngga kondusif, kondisi dalam ruangannya panas banget, kipas anginnya kurang, ruangan nggak sesuai kapasitas,” ujar Ibnu Ginanjar Matematika 2013.
Tak hanya mahasiswa, dosen juga mengeluhkan ruangan yang harus pindah ke Lab Terpadu, “Jadi kondisi di lab terpadu sendiri sangat panas tidak ada AC-nya, fasilitas yang kurang memadai karena harus membawa proyektor kesana,” kata Dosen Matematika Sri Maryani.
Ammar menambahkan jika mahasiswa merasa dirugikan karena tidak dilibatkan dalam mengambil keputusan tersebut. Rencananya, mahasiswa ingin mengadakan audiensi bersama pihak dekanat. Namun hingga saat ini menurut Ammar belum ada jawaban dari dekanat. “Kita mau minta kejelasan, sudah ngajuin audiensi tapi belum direspon,” katanya.(Supriyatin)
Ed: Triana Widyawati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here