Ranking Unsoed Turun, Rektor: Penyebabnya Human Error

0
1900
Ilustrasi ranking Unsoed yang turun drastis selama lima tahun terakhir (Cahunsoedcom / Adhytia Mahendra)

Ranking Unsoed turun drastis dari lima tahun sebelumnya. Namun, human error dijadikan alasannya. Padahal, pemeringkatan universitas menunjukkan cerminan kualitasnya.  

Purwokerto – Cahunsoed.com, Senin (27/12) – Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) mengumumkan hasil klasterisasi perguruan tinggi pada (17/8). Perguruan Tinggi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) mengalami penurunan ranking yang drastis, dengan berada pada urutan 125 di tahun 2020. Angka tersebut menjadi peringkat Unsoed terbawah dalam lima tahun terakhir. Saat ini Unsoed tergolong klaster tingkat tiga dari lima klaster dengan urutan 76 dari 97 perguruan tinggi yang berada di klaster tiga. Klasterisasi perguruan tinggi bertujuan untuk mendorong perguruan tinggi dalam meningkatkan kualitas perguruan tinggi secara berkelanjutan.

Ditjen Dikti menggunakan empat aspek untuk memberikan penilaian kualitas pendidikan tinggi. Aspek ini terdiri dari mutu sumber daya manusia dan mahasiswa (input), pengelolaan kelembagaan perguruan tinggi (proses), capaian jangka pendek perguruan tinggi (output), dan capaian jangka panjang perguruan tinggi (outcome).

Kami menemui Kepala Subbagian Pendidikan, Eko Sumanto untuk mencari jawaban tentang alasan penurunan peringkat Unsoed.

“Benar Unsoed turun peringkat. Setahu saya sekarang menjadi peringkat 125. Intinya banyak faktor penyebabnya,” ujar Eko Sumanto saat ditemui tim Cahunsoed.

Jawaban yang kami dapatkan tak memuaskan. Ia tak menjelaskan alasan spesifik kenapa ranking Unsoed turun drastis. Kami mencoba menemui Kepala Biro Akademik, Krishnoe Maya Wulandari untuk mendapatkan jawaban pasti. Sayangnya, ia menolak untuk diwawancarai.

Setelah kami telusuri lebih lanjut, faktanya dari keempat aspek tersebut, aspek input dan outcome Unsoed di bawah nilai rataan pada klaster tiga. Unsoed mendapatkan skor 1.670 untuk aspek input dari nilai rataan klaster tiga 1.976 sedangkan aspek outcome memperoleh skor 0,865 dari nilai rataan 1,168.

Indikator yang digunakan untuk menilai kinerja perguruan tinggi pada aspek input antara lain persentase dosen berpendidikan S3, persentase dosen dalam jabatan lektor kepala dan guru besar, rasio jumlah dosen terhadap jumlah mahasiswa, jumlah mahasiswa asing, dan jumlah dosen bekerja sebagai praktisi di industri minimum 6 bulan.

Sedangkan, pada aspek outcome, aspek yang digunakan lima aspek yang digunakan antara lain kinerja inovasi, jumlah sitasi per dosen, jumlah patent per dosen, kinerja pengabdian masyarakat, dan persentase lulusan perguruan tinggi yang memperoleh pekerjaan dalam waktu 6 bulan.

Rektor Unsoed akhirnya buka suara tentang peringkat Unsoed yang terjun bebas. Alih-alih mendapatkan jawaban pasti, alasan yang kami terima justru menggelitik telinga.

“Unsoed turun peringkat karena human error, ada kesalahan saat entri data,” ujar Suwarto.

Pernyataan Rektor tentang faktor human error dikritik olah Toto Sugito, dosen Ilmu Komunikasi yang menjadi salah satu asesor di BAN-PT. Menurutnya, alasan yang diutarakan terkesan meremehkan. Padahal, adanya pemeringkatan universitas sebagai cerminan kualitas perguruan tinggi. Bahkan ia menambahkan perkara kecil seperti pengecekan data harusnya bukan menjadi urusan yang harus dipermasalahkan.

“Kesalahan seperti itu sudah tidak bisa ditoleransi. Harusnya bisa dicegah, bukan dijadikan sebuah alasan,” ujarnya.

 

Reporter : Ardhi Ramadhan, Laksmi Pradipta Amaranggana

Penulis : Ardhi Ramadhan

Editor : Adhytia Mahendra

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here