Perkara 65 dan Akal Sehat

0
79

Oleh: Muflih Fuadi

Mahasiswa Fakultas Biologi 2013

Berbicara mengenai prahara 65 dan perkembangannya akan selalu menarik berbagai khalayak untuk memperbincangkanya, entah dengan data yang valid maupun asumsi-asumsi yang beredar dari mulut ke mulut. Peristiwa 65 juga diakui atau tidak menjadi tonggak sejarah yang membuat Indonesia dan apa yang ada didalamnya bertransformasi menjadi apa yang disebut Orde Baru (ORBA). Kelamkah 65 dan selalu hitamkah sejarah yang dituliskan oleh gerakan kiri lainnya? Kita tentu tidak bisa menjustifikasi dengan gegabah dengan jawaban-jawaban normatif yang akhir-akhir ini bertebaran di media. Maka dari itu kita seharusnya punya perspektif lain agar kita sendiri dapat lebih jernih dalam menilai perjalanan bangsa ini.

Diakui atau tidak, peristiwa 65 semakin hari menjadi semakin hangat diperbincangkan tanpa mempertimbangkan essensi dari peristiwa tersebut dan kontribusi individu yang ada dalam gerakan tersebut secara menyeluruh. Saya sendiri tidak akan membahas terlalu dalam mengenai sejarah dan perkembangan dari issue ini namun lebih menawarkan untuk melihat dalam perspektif baru sebagai mahasiswa biologi kekinian. PKI dan organisasi sayapnya sebenarnya memberikan kontribusi yang tidak sedikit dalam perkembangan sosial, politik, budaya, dan pendidikan bagi negara dan bangsa Indonesia. Terbentuknya Lekra dan afiliasinya dengan PKI, berdirinya Universitas Res Publica dan Universitas underbouw PKI lainya, serta BTI dan lainya sesungguhnya bukti nyata bahwa PKI berkontribusi nyata. Sepak terjang PKI dan organisasi sayapnya setidaknya mengimbangi dominasi angkatan darat dan politik militerisme yang dibangun oleh Nasution dan kawan-kawan seperti yang sering dikatakan oleh Pramoedya Ananta Toer.

Pergerakan PKI ini seakan memberikan jawaban nyata dalam perimbangan politik di Indonesia. Dalam konsep keseimbangan ekologi, suatu ekosistem akan mencapai produktivitas ekonomi dan biologis tertinggi dalam keadaan gangguan menengah sehingga terciptanya keseimbangan yang dinamis. Atau dalam lingkup kecil keseimbangan tubuh yang menjadi tolok ukur kesehatan tubuh juga tercipta dari keseimbangan internal  dari aksi perimbangan hormonal tubuh. Hal ini analog dengan kehadiran PKI dan sepak terjangnya sebelum 65 seakan sesuai dengan konsep keseimbangan ekologi tersebut. PKI memberikan sentuhan nyata sebagai kekuatan alternatif dalam menciptakan perimbangan tersebut. Otomatis, dengan adanya keseimbangan ini secara langsung maupun tidak menciptakan Indonesia yang lebih dinamis. Lucunya masyarakat sekarang seakan tidak melihat bahwa PKI sebelum 65 merupakan sebuah bentuk anugrah dalam meciptakan keseimbangan sosial di Indonesia.

Khalayak ramai seakan memahami PKI adalah dosa sejarah yang tidak bisa diambil hikmah positifnya. Masyarakat seakan hanya memahami bahwa PKI dan organ-organ kiri lainnya di Indonesia sebagai bahaya laten yang harus segera dimusnahkan. Hal ini dianalisis oleh almarhum Wijaya Herlambang sebagai langkah dekonstruksi perspektif yang dilakukan orba untuk menciptakan stabilitas politik dan ekonomi. Wijaya Herlambang secara lengkap memberikan penjabaran langkah-langkah orba dalam melakukan dekonstruksi perspektif masyarakat lewat seni dan budaya tentang PKI, gerakan kiri, dan Marxisme Leninisme. Hasilnya? Ya kita tentu dapat melihatnya dalam era kini, phobia komunisme yang terstruktur dan dogmatis, alergi terhadap apapun yang disebut “gerakan kiri”, dan sengaja membutakan diri terhadap alternatif perspektif dalam menyikapi gerakan kiri, PKI dan hal-hal lain mengenai Marxisme Leninisme. Mungkin dalam konteks ini, kemalasan dan ketidaktahuan mereka dalam menyelami Marxisme Leninisme, dan Komunisme secara lebih dalam menjadikan masyarakat kita makin dogmatis. Akhirnya, masyarakat yang jadi korban. Masyarakat jadi membenci sesuatu – dalam hal ini Komunisme, Marxisme, Leninisme – tanpa perlu mencari tahu terlebih dulu apa yang mereka benci. Mirisnya, ini terjadi di mana-mana termasuk di institusi pendidikan.

Doktrinasi orba mengenai kiri dan turunanya sekarang seperti tumbleweed (Salsola tragus) yang akan mendominasi ekosistem dan bersifat destruktif terhadap ekosistem tersebut. Dimana doktrin phobia kiri adalah gulma tersebut dan masyarakat Indonesia sebagai ekosistemnya.  Hal ini tidak boleh hanya diaminkan saja tanpa ada tindakan penyadaran untuk sekadar bisa menerima perspektif alternatif baru mengenai kekirian. Karena jika hal ini terjadi maka lambat laun akal sehat masyarakat kita akan semakin terkikis dengan dogma-dogma yang ditanamkan oleh orba.

Lagi, Darwin sendiri dalam The Origin of Species-nya dan dijabarkan oleh penganut Neo Darwinian telah menyatakan bahwa semua seleksi alam yang terjadi akan menciptakan organisme yang paling sesuai dengan kondisi alam dan kemampuan adaptasi yang relevan, sedangkan seleksi artificial yang berlandaskan motif-motif ekonomi dan lainya hanya akan menciptakan organisme yang sekadar fungsional tanpa kemampuan adapatasi yang nyata terhadap dinamika seleksi yang datang kemudian hari. Jika diterjemahkan dalam kondisi kekinian masyarakat, doktrin orba tentang kekirian merupakan seleksi buatan (artifisial) yang akan membuat masyarakat kita semakin terbelakang dalam konteks sosial kemasyarakatan dan tentu saja menumpulkan akal sehat kita. Kasus kasus intoleransi terhadap pemikiran kiri sepeti pembubaran diskusi, pelarangan pemutaran film tertentu, konfrontasi terhadap kalangan yang dicap kiri merupakan bukti masyrakat kita masih terbelakang bahkan dalam konteks keterbukaan menerima perpsektif perpsektif alternatif. Seakan masyrakat kita masih masyrakat feodal yang masih sendhiko dawuh terhadap nilai nilai lama tanpa berani mengkritisinya

Jadi, apakah kita yang sedikit sadar akan kondisi masyarakt terkait sikap masyarakat yang ada saat ini akankah terus diam? Atau mencoba sedikit memberikan pencerahan terhadap masyarakat ataukah akan tetap diam sembari menikmati kemelut isu ini? Tentu hal ini akan kembali lagi ke masing-masing individu untuk mengambil keputusan sesuai dengan kapasitas dan keperluan masing-masing. Tentu penulis berharap akan ada efek positif yang timbul dengan tulisan ini dalam menghadapi isu komunis yang menggelora tanpa pemahaman yang mendalam akhir-akhir ini.

SHARE
Previous articleBEM FISIP Tidak Terima Dianggap Sepihak
Next articlePerkara 65 dan Akal Sehat
Cahunsoed.com adalah Portal Berita Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) SOLIDARITAS Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto yang menyajikan berita dan kejadian-kejadian seputar dunia kampus, pendidikan, pemuda, kreativitas, serta berita seputar Banyumas. Selain itu, kami senantiasa menjadi “watch dog” atau kontrol kuasa atas kebijakan-kebijakan kampus.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here