Pentingnya Peran Universitas Terhadap Kesehatan Mental Mahasiswa

0
475

Isu kesehatan mental di masa pandemi Covid-19 menjadi tantangan baru secara global, termasuk Indonesia yang mengalami peningkatan signifikan. Menurut data Kementerian Kesehatan, pada bulan Juni 2020 tercatat ada 277 ribu kasus kesehatan mental, sedangkan di tahun 2019 terdapat 197 ribu kasus kesehatan mental.

Menurut WHO, kesehatan mental adalah keadaan sejahtera di mana setiap individu dapat mewujudkan potensi mereka sendiri. Selain itu, kesehatan mental juga berarti konsep positif yang berkaitan dengan kesejahteraan sosial dan emosional wellbeing individu dan komunitas. (Jenkins, 2007). Seseorang bisa dikatakan memiliki mental yang baik apabila kondisi batin seseorang tersebut merasa aman dan tentram sehingga dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari seseorang tersebut tidak merasa tertekan.

Terdapat tiga jenis masalah kesehatan mental yang dialami oleh masyarakat Indonesia selama pandemi Covid-19 yaitu cemas, depresi, dan trauma. Menurut survei yang dilakukan Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) pada 2020, sebanyak 77% dari total 2.364 responden mengalami trauma psikologis akibat peristiwa tidak menyenangkan terkait Covid-19.

Hal ini dikarenakan saat pandemi Covid-19 terjadi pembatasan sosial. Orang-orang yang sebelumnya tidak terbiasa berdiam diri di rumah merasa tidak nyaman dengan kebijakan ini. Selain itu, banyak orang merasa stres karena kehilangan pekerjaan mengakibatkan peningkatan gangguan kesehatan mental. Mahasiswa dan pelajar juga rentan mengalami stres karena pembelajaran daring yang tidak efektif. Hal tersebut bisa dilihat di sosial media yang memuat keluh kesah para mahasiswa.

Menanggapi isu ini, seharusnya pihak kampus lebih aware dengan masalah kesehatan mental yang dialami oleh mahasiswa. Namun, permasalahan ini belum sepenuhnya diperhatikan oleh pihak kampus. Kurang seriusnya terhadap isu ini bisa dilihat dari layanan yang disediakan oleh pihak kampus. Salah satu kampus yang memiliki layanan konseling kesehatan mental adalah Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed).

Baca juga: Tiga Tahun Berdiri, Bimbingan Konseling Unsoed Masih Belum Optimal

Unsoed memiliki layanan konseling yaitu Bimbingan Konseling (BK) Unsoed yang menyediakan konselor di masing-masing fakultas. Hal Ini sudah selayaknya menjadi perhatian bagi penyelenggara pendidikan tinggi untuk mendorong terciptanya lingkungan belajar yang kondusif bagi kesehatan mental mahasiswa. Namun, keberadaan layanan konseling ini belum diketahui oleh semua mahasiswa dan kurangnya sumber daya manusia yang kompeten, sehingga masih belum terasa perannya.

Berkaca dari universitas lain, nampaknya, peran Unsoed tertinggal sangat jauh dari perguruan tinggi lainnya. Misalnya Universitas Indonesia yang membuat suatu program bernama Quality Tine. Program tersebut memberikan layanan kesehatan mental selama pandemi Covid-19 melalui Instagram, Challenge, dan Webinar.

Di Instagram mereka memberikan info tentang kesehatan mental, sedangkan untuk Challenge merupakan kontribusi terhadap penanganan Covid-19 dengan cara apabila seseorang ikut mempublikasikan keikutsertaan maka sponsor Quality Tine akan mendonasikan satu box makanan kepada tenaga kesehatan di rumah sakit rujukan Covid-19. Webinar yang dilakukan pun mengangkat tema kesehatan mental. Kegiatan Quality Tine mendapat respon yang positif. Hal ini terbukti karena kurang dari satu pekan program Quality Tine dapat berdonasi kepada 130 orang tenaga kesehatan.

Selain itu, Universitas lain yang concern dengan masalah kesehatan mental, yaitu Universitas Sriwijaya (Unsri). Fakultas Kedokteran Unsri mengadakan kegiatan Mental Health Awareness yang dihadiri oleh Unit Kegiatan Mahasiswa dan Unit Kegiatan Khusus Unsri. Tujuan dari kegiatan tersebut agar mahasiswa Unsri dapat menyebarluaskan informasi tentang kesehatan mental kepada orang-orang di sekitarnya.

Nampaknya pihak Unsoed harus berupaya lebih dalam hal layanan konseling kepada seluruh mahasiswanya. Jika layanan konseling berjalan dengan baik, maka menunjukkan bahwa Unsoed serius dalam membantu kesehatan mental mahasiswanya, bukan hanya kebutuhan akreditasi.

Penulis: Mg-Fildzah Lathifah

*) Opini kolumnis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here