OPINI: Birokrasi Unsoed, Permasalahan Alokasi Dana Beasiswa

0
99

Oleh: Mohamad Khaidir Nurjaman*

            Berbicara birokrasi tentu berbicara mengenai para birokrat kampus yang memegang jabatan beserta power yang di milikinya untuk menentukan segala bentuk kebijakan kampus. Birokrasi tentu berkaitan erat dengan negosiasi yang berisi dengan segala kepentingan yang berujung pada sebuah kebijakan kampus. Kebijakan yang harus di taati oleh si mahasiswa dan seluruh buruh kampus yang bekerja dalam ruangan-ruangan ber-AC. Ada juga buruh-buruh tekhnis kebijakan. Di kenal sebagai karyawan bapendik, tata usaha, dan tak lupa, dosen yang menjadi alat transformasi ilmu kepada mahasiswa termasuk buruh kampus juga.

Birokrasi, bagian yang tak lepas dari sistem yang menentukan jalannya kebijakan. Ada syarat khusus dalam birokrasi yang dikatakan baik. Salah satunya adalah terbuka , transparan, serta melayani.

Dalam sistem birokrasi kampus, pemegang alur kebijakan tertinggi adalah Rektor, dan jajarannya. Lalu ada pula di fakultas, hinga yang berkaitan dengan Tata Usaha, dan kemahasiswaan. Terlalu rumit, jika dijelaskan dalam satu kalimat, Njlimet, berbelit, dan jelas berbau kepentingan.

Namun kita lihat saja bagaimana gambaran birokrasi sehari hari. Mereka yang berlindung di balik perisai jabatan dan kesucian pemegang kekuasaan. Berlambang spatu mengkilat, jas mewah, ditemani secangkir kopi,dan cigarette, tak lupa gadget berisikan games angry birds (maybe). Mereka memantau berjalannya kebijakan setelah kebijakan berjalan.

Mengapa demikian, ini mungkin karena mereka takut di kebiri kekuasaannya, anti-kritik, sehingga hal-hal itu membuat mereka harus bersembunyi apabila ada yang tidak beres dengan kebijakan yang di putuskannya.

Contoh realnya, ketika seorang mahasiswi jurusan Sosiologi yang tak lain teman kelas saya sendiri hendak mengambil judul mengenai permasalahan “Alokasi Dana Beasiswa Bidik Misi, BBM dan PPA” sebagai skripsi untuk menyelesaikan studi sarjananya. Namun yang terjadi, dia di kritik habis-habisan oleh pembimbingnya, yang juga pemangku kebijakan tingkat rektorat. Kelar di kritik langsung ditandas, ‘Ganti judul tersebut’.

Ada sebuah kejanggalan disini, mahasiswa yang harus dituntut kritis akan berpikir dan bertanya mengapa harus di bendung langkahnya? Mengapa judul itu harus di ganti? apa yang salah? Bukan masalah penyusunan bahasa ataupun kata-kata tentunya. Melainkan judul yang hendak di bedah dan dicari informasi kebenarannya.

Memang Permasalahan beasiswa menyangkut keberlanjutan mahasiswa dalam menjalankan studinya. Terkhusus, yang tidak kurang mampu membiayai pendidikan. Artinya alokasi anggaran yang dipertanyakan dalam kasusu skripsi teman saya layak dipertanyakan. Teman saya sendiri mendapat beasiswa.  Ia mendapat jatah beasisiwa, perolehan beasiswa dengan pembatasan tahun, Bidik Misi nama beasiswanya. Dengan Ia sebagai orang yang mendapat beasiswa, Ia pun diganjal pula beasiswanya. Jika judul skripsinya tetap dilanjut, maka beasiswanya akan dicabut.

Lain lagi, ruang pelayanan bapendik pun lucu. Sebagai elemen yang seharunya melayani, malah banyak sekali terjadi kontra pelayanan yang baik. Seperti dalam hal pemberian informasi mengenai opening pendaftaran beasiswa, pihak bapendik sering kali memainkan tanggal pembukaan dan penutupan penyerahan pendaftaran dan persyaratan pengajuan beasiswa.

Pernah saya alami sendiri, juga beberapa teman-teman satu jurusan yang saya ketahui, bahwa pengumuman pendaftaran beasiswa sering kali mendadak, di tambah dengan tidak adanya kejelasan mengenai persayaratan apa  saja yang di butuhkan oleh pihak kampus. Contohnya, ketika itu saya dan kawan saya hendak menanyakan informasi mengenai pendaftaran beasiswa, namun pihak bapendik hanya menjawab, “belum tahu, belum ada, kalau sudah adapun biasanya kami umumkan di papan informasi”.

Memang benar di umumkan ketika itu, Tapi antara waktu pembukaan pendaftaran dan penutupan penyerahan persyarat lebih sering diberikan dengan tenggang waktu sempit. Belum lagi tak adanya kejelasan mengenai persayaratan apa yang harus di serahkan, karena pada saat itu deadline kurang 5 hari. Saya bergegas mempersiapkan persayaratan yang dibutuhkan, jelas cukup banyak da rumit. Sudah seperti itu, kelar urusan yang sudah ditentukan dengan ketidak jelasan info. malah .mahasiswa disalahkan. Berbelit, meminta syarat diganti atau apa lah, sampai waktu itu saya tergesa-gesa.

Inilah yang terjadi senyatanya, birokrasi kampus memang lucu. Tak ada transparansi, pelayanan tak jelas, dan lainya yang memang bertele-tele. Paling krusial dari Pertanyaan saya adalah, soal teman saya. kenapa sampai enggan menerima judul yang di ajukan kawan saya tentang dana. bukankah seharusnya bentukan birokrasi yang baik adalah birokrasi yang terbuka dan transparan. Lalu, apa salahnya jika seorang penerima beasiswa meneliti tentang keganjalan unsoed, Hingga mendapat ancaman di cabut Beasiswanya.

*) Mahasiswa S1 Sosiologi Fisip Unsoed

SHARE
Previous articleOPINI: Penjara untuk Mahasiswa
Next articleMenumbuhkan Kembali Solidaritas Warga FISIP
Cahunsoed.com adalah Portal Berita Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) SOLIDARITAS Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto yang menyajikan berita dan kejadian-kejadian seputar dunia kampus, pendidikan, pemuda, kreativitas, serta berita seputar Banyumas. Selain itu, kami senantiasa menjadi “watch dog” atau kontrol kuasa atas kebijakan-kebijakan kampus.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here