Nyanyian Rindu Serumpun Padi

0
183

Oleh: Tutus Adi Pambudi* 

otak awan dan pelangitan yang memerah nampak malu. Reruntuhan bahasa menjelma bulir-bulir yang berjatuhan dari langit serupa tangis. Gerimis sore ini, bersama debuman alat berat dan deru knalpot. Mataku masih sayu, atau mungkin memang tak bisa terbuka sempurna. Entahlah, kini aku tak peduli lagi dengan parasku. Terlebih lagi bentuk badanku. Toh siapa yang bakal peduli? Tak ada, mungkin tak satupun.Perihal menanam dan tumbuh lalu mati, sejatinya ialah sebuah putaran kata tanpa akhiran. Namun, mungkin ini tidak berlaku pada ceritaku ini.

Aku, terus mengumpat kepada waktu. Waktu yang tak pernah lelah berlarian, di lorong-lorong sempit pojokan kota hingga ke sawah-sawah dan pos ronda desa. Ah, rupanya waktu tak pernah merasa dahaga. Malas melihat kanan, kiri atau bahkan menoleh ke belakang. Dan waktu pun meninggalkan ku dalam sekotak perandaian. Disitulah aku tinggal.  Dengan beberapa  Nuri dan boneka yang telah lengkap jubahnya. Di pelataran kotak aku menonton sebuah opera. Dengan naskah tentang kaki yang terus berlari, terburu-buru. Berjejalan dalam topeng kera.

Ya, beginilah duniaku. Negeri di dalam sebuah kotak, yang warnanya makin hari makin pudar tergerus sisa semen dan material bangunan. Aih, aku sampai lupa memperkenalkan diri. Maaf tuan dan nyonya yang di belakang. Tunggu, jangan angkat pantat dulu dari wajah kursi itu. Mesralah, aku minta waktu sebentar. Biarkan aku menyeduh teh ku.

“Aku adalah sahabat kalian, tuan dan nyonya bermake-up tebal.” kataku dari atas panggung sembari menyesap secangkir teh.

“Benarkah?

Are yousure?

“Yakin benar kau tuan?” semua orang berebutan bertanya.

“Aih, ternyata memang kalian belum sadar” jawabku ketus.

Baiklah, akan ku ceritakan sedikit dongeng tentangku.

Aku, berisi bulir-bulir yang kelak memberikan arti kedamaian dan kemerdekaan di spasi dalam perutmu. Aku hijau lalu menguning dan selalu merunduk sewaktu menatap wajah kalian yang makin hari makin tak tahu malu tuan. Walaupun aku kini tinggal di dalam sebuah kotak, dengan cahaya seadanya. Di sekitar yang makin hari makin riuh dengan lalu lalang alat berat danberton-ton semen dan batu bata yang hilir mudik memenuhi rumahku. Halaman-halaman kosong yang dahulu berjejal kawan karibku kini ludes sudah di gerus modernitas.

Sepi…

Dibalik tirai muncul sesosok bayangan.

“Mas, mau kapan kau beli kan Insektisida mas? Anakku nafasnya sudah sebentar lagi mas.” bisiknya.

“Ah suara itu, Tince.. Kau dimanaTince?” panggilku ke segala sudut.

Tince, adikku yang mati sewaktu rahimnya dihabisi satu koloni ulat. Aih, padahal belum masak benar usia kandungannya. Sialnya Tince, ulat-ulat itu tak tahu waktu. Apalagi malu, rakus! Ulat yang merong-rong rahimnya, memakan sedikit demi sedikit janin-janin Tince. Kemudian menuju payudara yang mulai ranum itu. Kasihan Tince, tak sempat buah hatinya akan berkembang dan tumbuh.

Tetiba ada teriakan lagi dari bawah ranjang.

“Mas.. Kamu dimana mas? Mas………” suaranya menyusut dibalik ranjang.

“Jon.. Jooooon… Joni! Aku disini.. Tunggu, jangan pergi dulu!” teriakku kesetanan.

Itu Joni, pemuda yang beranjak dewasa ini ditemukan tewas dengan mulut berbusa dan mata yang menganga lebar. Overdosis! Itu diagnosa dari dokter pribadinya. Joni pemuda dengan banyak bakat yang menjanjikan, harus dihabisi nyawanya oleh bahan kimia kiriman tangan besar dari luar kotak. Ah, mungkin tangan besar yang di penuhi bulu itu terlalu banyak mencekoki Joni dengan Pestisida. Bahan kimia yang di gadang-gadang menjadi penyelamat bangsa ini. Benarkah? Sungguh aku tak percaya jika cairan itu adalah penyelamat negeriku. Buktinya, kalian lihat Joni. Lihat dia! Ah sial!

Aku mondar-mandir berkeliling, ada makian dari bawah panggung.

“Sompret! Badut-badut penghisap, setan alas!” makian bocor dari bawah panggung.

Aku diam, lidahku kelu. Terbesit wajah kawanku yang bernama Juki. Seorang pemuda yang tak tamat Sekolah Dasar. Isi kepalanya hanya bangun pagi, mandi, lalu merawat kandungannya agar bulir-bulir itu besar sempurna dan mengenyangkan kemudian kembali lelap hingga shubuh memanggil. Tentu saja aku hapal benar kegiatannya, karena rumahnya tepat berada di ujung hidungku ini. Dan perlu tuan dan nyonya tahu, Juki mati mengenaskan. Dengan tulang rusuk yang menonjol dan kerongkongan yang kering. Juki yang masih lugu harus rela mati kelaparan dan dahaga yang sangat menyiksa. Rumahnya dicabut paksa oleh orang kiriman dari luar kotak. Dan kau tahu? Joni hanya mendapat ganti rugi sebesar 10% dari harga tanahnya. Kurang ajar! Umpatan pun tak kan ada habisnya berlarian dari mulut kami menuju kumis-kumis tebal orang suruhan itu.

Sedap benar ingatan yang selalu ku rawat tentang kawan-kawanku yang mati satu persatu. Mataku kian layu, kelopaknya kembali berguguran.

Aku menyandarkan punggungku yang cukup lelah menopang bulir-bulir yang hampir masak dan memoar tentang tanahku tadi. Aku kepulkan asap tembakau ke langit-langit, berharap semua turut menguap. Ah sialan! Kenapa waktu membeberkan rahasia kemajuan zaman yang tak ramah lingkungan. Jahanam!

Derai bertambah deras, tubuh telanjangku habis dibalut kain bernama hujan. Aku mencuci tangan dan kenangan di wastafel, lalu berkaca. Tiba-tiba muncul sepotong lanskap di dalam cermin. Trotoar ribut, jalanan yang penuh makian!

“Hei, aku lihat! Itu, lihat itu saudara-saudara. Itu ayah kami, namanya Soewignyo. Dia yang selalu merawat kami, seorang petani dan terkadang menjadi buruh pabrik genteng.” katakku kegirangan.

Aku tak ingin gosok gigi kali ini, aku hanya ingin membebaskan rinduku dengan menatap matanya lekat-lekat. Entah sudah berapa puluh tahun aku tak pernah melihat ayah lagi. Namun tetiba ada teriakan dari semua sudut panggung.

“Minggir, bubar! Semuanya bubar!

“Kami membawa surat perintah, bubar sekarang juga!” teriakan berloncatan memenuhi panggung.

Pentungan dan sepatu boots yang berderet, lalu umpatan-umpatan provokasi. Semua bertubrukan, berhamburan hingga bingkai cerminku retak. Ajaibnya, malah ayahku loncat keluar dari cermin.

“Ayah, ayah.. Ini aku yah, Karta yah..

“Tince, Joni, Juki dan kawan-kawan lain sudah berpulang yah.” kataku sendu.

“Sebentar nak, tunggu sebentar. Ayah harus selesaikan sengketa ini, tak bisa dibiarkan berlarut-larut.” Suara ayah semakin sunyi seiring langkahnya menuju kerumunan.

Tanganku mencoba menggapai-gapai namun yang kudapat hanyalah sekelumit bayangan ayah.

“Setan kalian semua! Buta kah kalian? Atau tuli hah?!

“Bukankah sudah jelas ini adalah tanah kami! Itu batasnya! Lihat pagar setinggi pohon kelapa itu, apa matamu itu sudah beralih fungsi menjadi burit hah?!” maki seorang bertubuh tegap dengan loreng di sekujur tubuhnya.

“Bagaimana bisa? Dari nenek moyang kami pun tanah ini sudah berfungsi sebagai lahan pertanian. Tempat kami bercocok tanam, tempat anak kami menggantungkan mimpinya! Tidak bisa, ini tanah kami!” cerocos ayahku tak kalah galaknya.

“Ini tanah Negara, bukan punya nenek moyang kau!” makiannya mendarat sejurus dengan pentungan dan sepatu yang berhamburan ke tubuh dan wajah ayahku.

“Mati kau musuh Negara, mati!” lelaki itu kesetanan.

Panggung penuh darah, genangannya mencapai tempat parkir. Aku masih menonton sepotong aib tanahku dari dalam kotakku. Mataku panas, urat ku seakan mengejang.

“Dasar manusia tak tahu diuntung! Tanah ini tak kan menerima jasadmu kelak!” makiku penuh kesumat.

Lampu sorot mulai padam, tirai panggung perlahan tertutup. Pianis mengawali tuts pianonya dengan gerusan Eminor, kemudian sebuah botol dengan puisi di perutnya muncul dari bawah panggung. Suaranya lantang.

Nyanyian Rindu

Nyanyian rindu serumpun padi terhadap aroma tanah selepas di guyur hujan

Nada-nada yang berisi tentang kebebasan untuk tumbuh dan berkembang

Namun jangan lupa, tetaplah berguna

Batang yang segar dan perut yang sekal berisi

Jadi kebanggaan rakyat di dalam dapur

Wajan,

penggorengan,

piring serta sendok dan pasangannya,

lalu wajah-wajah penuh senyum,

dan terakhir ialah perut yang lapar

Tapi maaf, itu cerita tentang padi di 3000 tahun yang lalu

Dan ini kisah padi modern

Yang lupa dimana rahim dan tanah kelahirannya

Suara perut keroncongan pun berganti dengan deru alat berat dan bising knalpot

Lalu wajah-wajah sumringah para petani saat memanen

Berganti rupa dengan alis yang menyatu dan kumis tebal si pembawa pentungan

Aih, jika adalah sebuah perandaian

Tolong, nikmatilah semen dan batu bata ituseperti saat kau mengunyah bulir-bulir nasi

Dan jangan pernah tanyakan dimana tempat jual benih padi atau sawah yang berpetak-petak

Mereka sudah tenang di alamnya

Semoga damai selalu bersama kalian

Langkah kaki dan wajah murung berkerumun keluar ruangan, tirai tertutup sempurna.

Tamat

*)Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris

Universitas Muhammadiyah Purwokerto

SHARE
Previous articleAtap Direnovasi, Ruang Kelas Tetap Dipakai
Next articleFasilitas Ruang Kelas FIB Masih Banyak Kerusakan
Cahunsoed.com adalah Portal Berita Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) SOLIDARITAS Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto yang menyajikan berita dan kejadian-kejadian seputar dunia kampus, pendidikan, pemuda, kreativitas, serta berita seputar Banyumas. Selain itu, kami senantiasa menjadi “watch dog” atau kontrol kuasa atas kebijakan-kebijakan kampus.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here