Menuju Keemasan Banyumas Lewat Karya Sastra

0
175
Launching dan bedah buku "Menuju Keemasan Banyumas"

Purwokerto-Cahunsoed.com, Jum’at (6/3) Dalam acara launching dan bedah bukunya yang berjudul ‘Menuju Keemasan Banyumas’, Profesor Sugeng Priyadi bercerita tentang keanekaragaman Banyumas dan sejarahnya Kamis kemarin di Djagongan Cafe. Melalui karya sastra ini, Sugeng Priyadi memberi pemahaman secara lebih lengkap dan sederhana untuk mempelajari Budaya Banyumas. (Baca: Liputan Khusus Banyumas: Rampok di Tengah Resepsi Pernikahan)

“Dilihat dari sejarahnya, ada 65 versi Babad Banyumas,” kata Sugeng Priyadi. Ia juga mengatakan kalau Banyumas ingin menuju masa keemasan, bisa dimulai dari membuat sebuah karya sastra mengenai Sejarah Banyumas.

Sugeng dalam pembuatan buku ini mengacu pada teks Babad Banyumas yang ditulis oleh Wiriaatmadja Patih Banyumas. “Meskipun tidak semua babad itu karya sastra, tapi mau mengacu kemana lagi kalau berbicara tentang sejarah ya pasti ke teks babad,” katanya.

Sugeng menggambarkan Banyumas sebagai nama untuk menuju masa keemasan, seperti dari arti kata Banyumas yang berarti air dan emas. Hal tersebut mendapat tanggapan Profesor Husain Haikal  dari Universitas Pekalongan yang hadir menjadi pembicara. (Baca: Liputan Khusus Banyumas: Sebelum Mendoan Menjadi Tempe)

Husain mengatakan kalau daerah di Jawa bukan hanya Banyumas. Jadi berbicara soal Jawa, semua kota di Jawa memang memiliki potensi untuk menuju kota yang unggul. “Menggali Banyumas bisa saja semaksimal mungkin, tapi lebih baik kita melihat ke-Indonesiaannya,” kata Husain. (TRI/MG-IFN)

SHARE
Previous articleFoto : Gubernur Jateng Resmikan Jembatan 90 Milyard
Next articleMahasiswa Tak Tahu Ada Sistem Presensi Baru
Cahunsoed.com adalah Portal Berita Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) SOLIDARITAS Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto yang menyajikan berita dan kejadian-kejadian seputar dunia kampus, pendidikan, pemuda, kreativitas, serta berita seputar Banyumas. Selain itu, kami senantiasa menjadi “watch dog” atau kontrol kuasa atas kebijakan-kebijakan kampus.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here