Mayday 2021: Bagaimanakah Kesejahteraan Buruh di Banyumas?

0
143
Photo by Thibault Luycx from Pexels

Hari Buruh Internasional atau biasa disebut May Day diperingati setiap tanggal 1 Mei pada setiap tahunnya. Pada awalnya, hari buruh merupakan kesempatan untuk mengenang perjuangan revolusi industri dalam mendapatkan hak atas 8 jam kerja.

Setiap tahunnya, selalu terdapat demo buruh besar-besaran di berbagai daerah dan juga di depan Istana Merdeka. Para buruh menuntut hak-hak yang memang sudah semestinya mereka dapatkan dari pemerintah. Namun, peringatan May Day tahun 2020 sampai saat ini terasa berbeda disebabkan masih diselimuti pandemi COVID-19 yang tidak kunjung usai.

Salah satu buruh yang menyampaikan tuntutannya adalah Admini seorang buruh wanita Pabrik PT Bina Nusa yang kami wawancarai secara daring. Ia menyampaikan keluhannya terkait jam kerja atau upah minimum yang dianggap belum sepadan dengan pekerjaan yang dilakukannya. “Menurut saya, upah yang didapatkan tidak sepadan dengan apa yang dikerjakan, tolong lah beri kami kesejahteraan, tolong harga dinaikkan lagi, apalagi setelah ada corona harga menjadi anjlok yang dulunya Rp60.000 sekarang Rp45.000,” ucapnya.

Tidak hanya buruh pabrik saja yang merasakan haknya belum terpenuhi, tetapi juga banyak buruh tani yang mengeluhkan kesejahteraan yang sudah seharusnya didapatkan oleh mereka. Salah satunya adalah pasangan suami istri, yaitu Sobirin dan Kartini. Mereka merasa bahwa upah yang didapatkan tidak sepadan dengan apa yang dikerjakan, serta peran pemerintah belum jelas dirasakan oleh para buruh tani, termasuk mereka.

“Upah yang diberikan tidak tentu karena biasanya disamaratakan saja dan jumlahnya di bawah standar, semisal dapat pemilik lahan yang pelit kita yang rugi, makan juga petani enggak ditanggung, kita bawa sendiri,” Ujar Kartini mengenai upah yang didapat.

Tidak hanya itu, pasangan suami istri ini juga menyampaikan harapan untuk buruh tani agar ke depannya dapat lebih sejahtera. “Harapan kita untuk buruh tani ke depannya, ​​pupuk itu jangan rusak, kadang tidak ada juga atau mahal, apalagi di pandemi seperti ini. Tidak ada juga subsidi, walaupun ada Kartu Tani tetapi penghasilan dan pengeluaran itu terkadang beda jauh, dan sosialisasi menurut kami juga perlu terkait itu semua,” Ucap Sobirin dan Kartini.

 

Reporter: Putri Aminah Artika, Rafli Nugraha

Penulis: Putri Aminah Artika

Editor: Cahunsoedcom

SHARE
Previous articleAku Berhak Meminta Hak
Next articleKuliah Online: Irisan Keresahan Dosen dan Mahasiswa
Cahunsoed.com adalah Portal Berita Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) SOLIDARITAS Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto yang menyajikan berita dan kejadian-kejadian seputar dunia kampus, pendidikan, pemuda, kreativitas, serta berita seputar Banyumas. Selain itu, kami senantiasa menjadi “watch dog” atau kontrol kuasa atas kebijakan-kebijakan kampus.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here