May Day dan Umur Panjang Perjuangan Buruh

0
130

Oleh: Fahri Abdillah

Sejarah mencatat perjuangan buruh begitu panjang. Bermula pada abad ke-19, bahwa pada abad ini kelas buruh harus bekerja rata-rata 18 hingga 20 jam dalam 24 jam sehari. Waktu yang amat singkat untuk bercengkrama bersama keluarga. Tidak ada waktu istirahat, tidak ada waktu berlibur. Berangkat dari fenomena tersebut, buruh-buruh mulai memperjuangan tuntutan 8 jam kerja kepada perusahaan dan pemerintah.

Pada tanggal 5 September 1882, sebanyak 20.000 buruh berkumpul pertama kalinya di New York untuk melakukan parade. Mereka membawa dan membentangkan spanduk bertuliskan “8 jam kerja, 8 jam istirahat dan 8 jam rekreasi”. Berkat parade aksi ini, dalam tahun-tahun berikutnya berbagai negara bagian mengadopsi gagasan yang dibawa oleh gerakan buruh di New York, dan semua bersepakat untuk merayakannya.

Perjalanan buruh dalam mencapai kesepakatan perihal 8 jam kerja dan peningkatan upah terus berlanjut. Pada tanggal 1 May tahun 1884, sebanyak kurang lebih 400.000 buruh melakukan demonstrasi besar-besaran. Demonstrasi ini berjalan konsisten selama 4 hari hingga 4 Mei 1886. Aksi demo buruh ini berlanjut pada respon pemogokan umum yang membuat sebanyak 70.000 pabrik terpaksa ditutup.

Pada saat itu pula terjadi tragedi berdarah. Tepat pada tanggal 4 Mei 1886, dimana aksi buruh sedang besar-besarnya dan begitu heroiknya, negara melalui aparatnya melakukan penyerangan dengan aksi penembakan. Ratusan buruh mati. Para pemimpin aksi buruh di tangkap dan dihukum mati. Kejadian ini dikenal sebagai peristiwa Haymarket. Sedang ratusan buruh yang mati dikenal sebagai martir.

Akibat peristiwa berdarah Haymarket, membawa dampak yang mendalam bagi kelas buruh di seluruh dunia. Pada ahirnya, bertepatan dengan ulang tahun jatuhnya Bastille 4 Juli 1889, yang merupakan ulang tahun ke-100 Revolusi Prancis, semua buruh yang ada di berbagai negara berkumpul dan memutuskan untuk resolusi.

Isi resolusinya adalah “Kongres memutuskan untuk mengorganisir sebuah demonstrasi internasional yang besar, sehingga di semua negara dan di semua kota pada satu hari yang telah ditentukan itu rakyat pekerja akan menuntut pihak berwenang negara hukum pengurangan hari kerja menjadi delapan jam, serta melakukan keputusan-keputusan yang laindari Kongres Paris.Sejak demonstrasi serupa telah diputuskan untuk 1 Mei1890 oleh FederasiTenaga Kerja Amerika di konvensi di St Louis, Desember, 1888, hari ini diterima untuk demonstrasi internasional.  Para pekerja dari berbagai negara harus mengorganisir demonstrasi ini sesuai dengan kondisi yang berlaku di setiap negara.”

Pada akhirnya, telah disepakati bahwa 1 Mei sebagai hari buruh internasional. Hingga saat ini, pada tanggal 1 Mei, semua buruh di penjuru dunia akan memperingati hari mereka, hari paling bersejarah, yang dikenal sebagai May Day. Begitu juga dengan Indonesia.

Indonesia juga dikenal dengan permasalahan kesejahteraan buruh yang besar. Dimana setiap perusahaan tidak memberikan perlindungan serta tidak maksimal dalam memenuhi hak yang sudah selayaknya diterima oleh para buruh. Mulai dari masalah upah, waktu kerja yang seringkali melebihi ketentuan waktu kerja yang sudah diatur dalam pasal undang-undang, masalah jaminan social, hak cuti, hak berserikat, serta seringkali diberlakukan PHK yang tidak memiliki landasan yang jelas. Berbagai masalah inilah yang hingga hari ini berlum dapat diselesaikan oleh pemerintah maupun perusahaan.

May Day menjadi salah satu hari yang selalu dimanfaatkan buruh Indonesia untuk menyampaikan tuntutan mereka atas apa yang seharusnya menjadi hak mereka. Sudah sejak 1920 hari buruh di Indonesia di peringati. Meskipun, sempat dilarang selama rezim orde baru berkuasa. Namun, pasca itu 1 Mei kembali menjadi harinya para buruh Indonesia. Hal yang menarik dari gerakan May Day di Indonesia ini, tidak hanya diikuti oleh buruh. Berbagai golongan seperti mahasiswa, organisasi kepemudaan, serta masyarakat umum ikut turut serta menjadi dorongan semangat mencapai kesepakatan atas tuntutan kaum buruh Indonesia.

Melihat fenomena lahirnya May Day yang begitu panjang, hingga di Indonesia sendiri, menjadi bukti bahwa keterlibatan banyak pihak dalam gerkan ini, adalah wujud dari persatuan dan kesatuan generasi muda Indonesia. Begitu tingginya solidaritas yang diberikan masyarakat terhadap buruh, rasa kepedulian.

May Day, sejarah akan terus mencatat umur yang begitu panjang dalam memperjuangkan hak dan keadilan. Karena buruh tetap selayaknya manusia yang butuh hiburan, menikmati aroma sedap meja makan keluarga, serta bersentuhan dengan anaknya di taman.

Sumber data: https://rubbytmp.wordpress.com/2015/06/04/sejarah-hari-buruh-sedunia-mayday/

SHARE
Previous articleSK Rektor Belum Diterbitkan, TKO Mahasiswa Sudah Diubah
Next articlePimpinan Universitas Tak Mau Audiensi, Mahasiswa Bertahan di Rektorat
Cahunsoed.com adalah Portal Berita Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) SOLIDARITAS Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto yang menyajikan berita dan kejadian-kejadian seputar dunia kampus, pendidikan, pemuda, kreativitas, serta berita seputar Banyumas. Selain itu, kami senantiasa menjadi “watch dog” atau kontrol kuasa atas kebijakan-kebijakan kampus.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here