Mahasiswa Tuntut Gubernur Usut Kekerasan TNI di Urut Sewu

0
7
Puluhan mahasiswa melakukan Aksi solidaritas untuk
Urut Sewu menuntut Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo,
bersikap tegas atas konflik yang terjadi di Urut Sewu. .
(Foto:FHR)
Purwokerto – Cahunsoed.com, Minggu (23/8), Mahasiswa menggelar Aksi Solidaritas Untuk Urut Sewu, menemui Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, di Gedung Graha Widyatama Unsoed, Minggu (23/8) siang. Mereka menuntut gubernur mengusut tuntas kasus kekerasan TNI Kodim 0709 terhadap petani Urut Sewu, Kebumen, Jawa Tengah yang terjadi pada Sabtu (22/8) dan tindak kekerasan yang terjadi sebelumnya.

Ganjar sempat turun dari mobil untuk menemui massa aksi, sambil meminta bukti kekerasan dan data terkait konflik lahan di Urut Sewu. “Temui saya jam 1 siang dan bawa datanya,” katanya sebelum memasuki Graha Widyatama untuk memberikan kuliah umum penerimaan mahasiswa baru 2015.

Dalam aksinya, massa memberikan empat tuntutan kepada Ganjar. Diantaranya menghentikan pemagaran tanah petani Urut Sewu dan mengembalikan tanah milik petani, menarik TNI Kodim 0709 Kebumen dari Urut Sewu secepatnya dan mengusut tuntas segala bentuk kekerasaan yang telah dilakukan TNI AD kepada petani Urut Sewu.

Mereka menilai, gubernur sangat lamban dalam mengusut kasus perebutan lahan masyarakat Urut Sewu oleh TNI sampai akhirnya terjadi kekerasan. Koordinator Aksi, Ahmad Taqiyudin mengatakan bahwa sudah beberapa kali terjadi kasus serupa, “Sudah beberapa kali kasus ini terjadi, tapi pemerintah tidak pernah serius dalam mengusut kasus ini sampai selesai,” katanya.

Gubernur Tidak Mau Menandatangani Surat Pernyataan

Ganjar Pranowo bertemu dengan mahasiswa (Foto: FHR)
Setelah menunggu sekitar dua jam, massa lalu kembali menemui Ganjar. Saat massa memaparkan bukti-bukti, Ganjar tetap tidak mau mengabulkan tuntutan massa. “Kalau itu data yang sebenarnya saya butuhkan bukan ini,” ujarnya. Ia hanya membawa surat pernyataan sambil meninggalkan massa aksi tanpa menandatangani surat tersebut.

Konflik Urut Sewu terjadi antara TNI-AD dan petani setempat. Konflik ini bermula pada tahun 1982 saat TNI menggunakan lahan Urut Sewu sebagai tempat latihan militer. Warga menolak lahan tersebut digunakan sebagai tempat latihan militer, terlebih saat TNI mengklaim tanah tersebut adalah tanah milik mereka. Konflik antara TNI dan warga pun terjadi secara terus menerus selama bertahun-tahun hingga saat ini.

Pada Sabtu (22/8) kemarin, terjadi tindak kekerasan oleh TNI terhadap warga yang melakukan pencegatan pembangunan pagar oleh TNI Kodim 0709 di lahan Urut Sewu. Dikutip dari Tempo.co, sedikitnya 19 warga Urut Sewu menjadi korban dalam aksi ini. Meski konflik telah terjadi bertahun-tahun dan telah banyak korban berjatuhan, kasus ini tidak pernah di tanggapi serius oleh pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.

Andaru Pradityo, salah satu mahasiswa, mengaku kecewa dengan sikap Ganjar. “Ganjar telah menghianati rakyat Urut Sewu karena tidak serius dalam menyelesaikan konfik di Urut Sewu,” katanya. (FHR/ALX)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here