Mahasiswa Tidak Membutuhkan BEM U

0
9

Mahasiswa Tidak Membutuhkan BEM U

oleh: Arief Ikhsanudin

Mahasiswa melakukan sesuatunya sendiri, tanpa ada peran berarti dari Bem U. Apakah kita masih membutuhkan BEM U?

2007 silam. di tengah hiruk pikuk kegiatan mahasiswa FISIP, beberapa mahasiswa merasakan sebuah kejanggalan. Tiba-tiba kampus di buat ramai oleh sekelompok orang. Salah satu dari kelompok orang yang menciptakan keramaian adalah Begras, mahasiswa D3 Bahasa inggris angkatan 2004. Begras sedang melakukan kampanye sebagai calon Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Besar Mahasiswa Unsoed (BEM KBMU). Sontak beberapa mahasiswa merasa Kaget. Hal tersebut karena tidak pernah ada pembahasan mengenai permasalah Pembentukan BEM-KBMU.

Salah satu mahasiswa FISIP yang kaget karena tiba-tiba ada kampanye BEM-U (BEM KBMU-red) adalah Yahya Zakaria, alumni Mahasiswa Jurusan Politik angkatan 2004. Ia merasa aneh kenapa tiba-tiba ada Pemira (Pemilu Raya) BEM U, padahal tidak pernah ada pembahasan kepada seluruh mahasiswa mengenai pembentukan BEM U.

Karena tidak melibatkan seluruh mahasiswa, bisa dikatakan bahwa BEM U bukan merupakan kesepakatan seluruh mahasiswa UNSOED. “Dari awal berdirinya saja BEM U ini sudah bermasalah. Bukan atas keinginan semua mahasiswa, cuma beberapa orang saja yang ngotot untuk mendirikan BEM U” jelas Yahya Zakaria.

Kekecewaan Yahya terhadap adanya Pemira BEM U semakin menjadi-jadi. Karena “Adanya Pemerintahan Mahasiswa Tingkat Universitas menjadi salah satu pra syarat Menuju BHPMN (Badan Hukum Pendidikan Milik Negara).” Ujar Yahya. Padahal sistem BHPMN ditentang keras oleh mahasiswa. Karena akan mengakibatkan Swastanisasi Universitas Negri.

Ketidakterlibatkan mahasiswa dalam Pembentukan KBMU terlihat jelas ketika terjadi Musyawarah Mahasiswa Pada Desember 2010. Pada saat musma, UKM tingkat Univesitas yang hadir sebagai undangan, yaitu Menwa, Racana, UPL dan SEF mendapatkan sesuatu yang aneh. Mereka merasa tidak pernah masuk dalam KBMU, tapi dimasukan dalam kelengkapan Organisasi KBMU. Sontak, protes dilakukan oleh empat UKM tersebut atas dimasukannya lembaga mereka sebagai kelengkapan organisasi KBMU.

Tidak heran jika keberadaan BEM U sebagai lembaga Pemerintahan Mahasiswa tidak mewakili seluruh Mahasiswa UNSOED. Pantas saja kalau ada mahasiswa yang tidak tahu adanya BEM U. Salah satu mahasiswa yang tidak mengetahui BEM U adalah Yogie Dwi Fanjaya, anggota UPL yang juga Mahasiswa Tekhnik Elektro angkatan 2007. Ketika ditanya tentang BEM U, ia malah balik bertanya. “Apa itu BEM U? singkatan dari apa?” Tanya Yogie.

********

Tidak ada kegembiraan yang lebih besar yang dialami oleh mahasiswa selain mendapatan gelar sarjana. Hal itu yang dialami oleh Ahmad Sadeli Mahasiswa D3 Agrobisnis 2008, pada tahun 2011. Tapi, Kegembeiraan Sadeli dan Kawan-kawan lainnya harus terganggu, karena salah satu persyaratan Pendaftaran Yudisium adalah lunas Biaya POM (Persatuan Orang tua Mahasiswa). Ia dan Kawan-kawannya yang belum Melunasi POM merasakan Kebingungan dan takut tidak akan mengikuti Yudisium.

Melihat permasalahan ini, maka FKHUFP (Forum Komunikasi Hima Unit Fakultas Pertanian) Melakukan sebuah usaha agar mahasiswa yang belum melunasi penarikan POM, masih bisa mengikuti Yudisium. Hingga akhirnya, Mahasiswa memaksa Dekanat Mengadakan Forum dengan mahasiswa. Hasil dari Forum tersebut adalah tidak ada lagi penarikan POM di Fakultas Pertanian.

Pada proses pengadvokasian masalah POM di Pertanian, merupakan hasil dari jerih payah dari mahasiswa Fakultas sendiri. BEM-U tidak melakukan tindakan apapun dalam permasalahan yang dialami oleh Mahasiswa Pertanian. Pantas jika Sadeli merasa kecewa terhadap BEM-U, Lembaga yang sebenarnya memiliki fungsi advokasi dan aspirasi. “Tidak ada keterlibatan BEM-U. Terlihat pun tidak dalam proses pengadvokasian POM di Fakultas Pertanian.” Keluh sadeli.

Masih dalam permasalahan yang sama, yaitu penarikan POM. Tetapi berada di lingkungan fakultas yang berbeda. Kini Giliran Fakultas Peternakan dan Jurusan Farmasi yang mengalami penarikan POM. Proses advokasi masih sama saja, dilakukan oleh Mahasiswa, hingga akhirnya penarikan di hentikan.

Sama dengan permasalahan yang ada di pertanian, BEM U tidak terlihat batang hidungnya untuk menyelesaikan permasalahan itu. “BEM U tidak sama sekali terlibat dalam Proses pengadvokasian POM, malah kita dibantunya sama aliansi Pers dan CPU (Centra Peduli Unsoed).” Ujar Shandy Nugraha, Mantan Mentri Kordinasi Internal BEM Farmasi tahun 2010-2011.

Sebenarnya, Bem U mengetahui permasalahan penarinkan POM yang terjadi di beberapa Fakultas dan jurusan. Tapi, Muharom, Presiden BEM-U 2010/2011 berdalih, “Kita tidak punya wilayah di tingkatan fakultas.” Atas alibi itulah, BEM-U seakan enggan untuk menyelesaikan permasalahan ditingkat mahasiswa.

“Buat apa ada BEM U, jika permasalahan yang ada di tingkatan mahasiswa BEM-U tidak turut serta menyelesaikanya. Kan semua kita sendiri yang menyelesaikan. Jadi buat apa ada BEM U, Sia-sia belaka.” Tegas Sadelli.

Kemandirian mahasiswa untuk melenyesaikan permasalahan yang ada terlihat jelas di FISIP. Permasalahan panjang tentang sekretariat UKM yang menghabiskan waktu lebih dari satu tahun , harus di perjuangkan oleh mahasiswa FISIP tanpa campur tangan BEM-U. Pantas jika presidium FISIP geram ketika mendengar kata ‘BEM-U’. “Mahasiswa tidak membutukan BEM-U untuk menyelesaikan permasalahan mahasiswa!” Geram Faisal, selaku Presidium FISIP.

Ketidak berartian BEM-U semakin dirasakan oleh Mahasiswa. “BEM U si apa?, Cuma ada pas ada pemilihan doank!” tegas Sulaiman Ketua Himesbang fakultas Ekonomi. Tapi, seakan tidak berkaca pada keadaan yang ada, Muharom tetap berkilah kinerja BEM U baik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here