LIPUTAN KHUSUS

0
8

Rampok di Tengah Resepsi Pernikahan


Oleh: Triana Widyawati 

Pembawa pikulan yang sedang menari bersama rombongan pengantin pria tiba-tiba terhenti. Kedatangan begal membuatnya harus mempertahankan ubarampe yang sedang dipikulnya.
tradisi begalan

Sejak pagi, antrean mulai terlihat di pintu masuk sebuah tarub pernikahan. Baris demi baris buku tamu undangan mulai terisi. Penjemput tamu mengenakan gaun kebaya ungu, berdiri memberikan senyum sambil mengarahkan tempat duduk. Irama lantunan musik Jawa terdengar ingar bingar layaknya resepsi pernikahan pada umumnya. Tarub bernuansa putih dan ungu menjadi hiasan salah satu rumah warga Karangklesem. Kursi yang dibalut kain putih di sisi kanan dan kiri panggung mulai dipenuhi para tamu. Sambil menunggu kedua mempelai keluar ruangan, para tamu menyantap hidangan yang sudah disediakan. Deretan tenda-tenda makanan, seperti sate, bakso, hingga es krim menjadi hidangan istimewa di resepsi kali ini.  


penjemput tamu
Sembari tamu menyantap hidangan, terlihat mempelai wanita keluar mengenakan gaun kebaya putih. Desi Anggit Saputri, anak pertama keluarga Ibu Ruhyati, bersiap menuju tempat yang disediakan. Ia duduk di samping Septian Wratna Prihantoro, yang akan mengucapkan ijab qobul untuknya. Tak beberapa lama kemudian, tepat pukul 9 pagi, kedua mempelai ini telah resmi menjadi pasangan suami istri. Setelah ijab qobul, sebentar lagi kedua pengantin itu akan melakukan prosesi adat pernikahan ala tanah jawa.

Sebagai pertanda mantu pertama, resepsi pernikahan dilengkapi dengan adat begalan. Ya, begalan merupakan tradisi khas masyarakat Banyumas. Dengan berganti gaun kebaya menjadi warna abu-abu disertai payet ungu, pengantin wanita keluar bersama orang tuanya. Pengantin pria berada terpisah di luar tarub resepsi. Mempersiapkan diri memulai tradisi nenek moyang.

pembawa pikulan

Di pintu masuk, terlihat rombongan pengantin pria berjalan bersama orang yang membawa pikulan. Menurut Seniman Begalan, Aprit Supriyadi, pikulan ini sebagai ciri khas tradisi begalan. “Ceritanya pesenannya pengantin putri,” katanya. Pikulan ini terdiri dari banyak ubarampe atau barang yang terbuat dari bambu, tempurung kelapa, kayu dan tanah liat. Iring-iringan musik tradisional mulai didendangkan. Sesekali terdengar, “Ya.. e!”, pembawa pikulan menari riang. Dengan mengenakan pakaian serba hitam disertai lilitan kain jarit, Aprit Supriyadi, berperan sebagai orang yang membawa pikulan. Ia memoles wajahnya dengan bedak dan lipstik untuk menunjang penampilannya. Ditambah kumis kecil sebagai penghias wajahnya.


Aprit Supriyadi yang menari-nari sambil membawa pikulan, tiba-tiba terhenti. Bebarengan dengan kaset musik yang mati. Di tengah rombongan pengantin pria, datanglah seorang begal. Dengan pakaian hitam, didominasi riasan wajah berwarna hitam, dan berambut panjang. Reka Guna menghadang rombongan pengantin pria. Reka Guna ini bisa diartikan sebagai perampok atau orang yang menghadang rombongan pengantin. Mujiyono berperan sebagai Reka Guna pada begalan kali ini.  

adu mulut Reka Guna dengan pembawa pikulan

Dimulailah percakapan antara Reka Guna dengan pembawa pikulan.
“Hai Ki, rombongan gawa abrag-abrag arep ming ndi lan ana urusan apa?” (Hai, Ki rombongan membawa abrag-abrag mau kemana dan ada urusan apa?)
Dijawablah oleh pembawa pikulan, “Aku lan rombongan arep ming umahe keluarga sing nang Karangklesem.” (Aku dan rombongan hendak pergi ke keluarga di Karangklesem)
“Ora usah kakehen omong, gawanane nggo aku bae,” kata Ki Reka Guna. (Tidak perlu banyak bicara, barangmu untuk aku saja)


Ki Reka Guna berusaha merampas barang bawaan pembawa pikulan. Adu mulut tak terhindarkan.  Pertanyaan demi pertanyaan Reka Guna lontarkan pada pembawa pikulan. Melihat berbagai macam barang menempel di pikulan, ditanyailah satu persatu makna dari barang bawaan itu.

penyampaian 12 makna barang-barang pikulan

Penyampaian makna barang-barang yang terdapat di pikulan dijelaskan satu per satu. Terdapat 12 barang bawaan sesuai dengan sejarahnya, dan sudah menjadi pakem dalam tradisi begalan. Sambil menjelaskan sesekali terdengar suara musik. Selain tamu yang hadir, kerumunan warga juga terlihat menyaksikan adat begalan ini. Mereka berebut mendapatkan posisi paling depan untuk dapat mengambil gambar dengan jelas. Akibatnya ruang yang tersisa untuk seniman begalan menjadi semakin terbatas. Halaman yang sempit membuat tidak adanya jarak antara penonton dengan pengantin serta seniman begalan.


Septian Wratna dengan Desi Anggit 

Tradisi begalan memang selalu menyita perhatian, meskipun di era yang semakin modern, budaya ini masih tetap eksis. Seperti kata Aprit Supriyadi, begalan memang telah mengalami beberapa perubahan untuk disesuaikan dengan perkembangan zaman. Jika dulu begalan disajikan dalam waktu berjam-jam, kini begalan cukup dilakukan dalam waktu setengah jam. “Masyarakat juga tidak capek nunggu terlalu lama,” kata Aprit.


Waktu setengah jam pun bukan waktu yang sebentar bagi orang untuk mendengarkan nasihat. Karena itu tak jarang untuk memantik tawa dari orang yang melihatnya, pelaku begalan saling main teplak menggunakan barang-barang yang dipikul. “Jenaka itu perlu biar orang yang nonton ngga bosen,” kata Aprit Supriyadi.

Hal serupa diungkapkan oleh Dosen Sejarah Universitas Muhamadiyah Purwokerto, Sugeng Priyadi. Meskipun begalan masuk dalam upacara adat pernikahan, bukan berarti dalam pembawaannya selalu saklek sehingga tak ada ruang untuk guyonan. “Upacara pernikahan yang bisa serius dan guyonan hanya ada di Banyumas,” katanya.

Aprit Supriyadi
Tradisi begalan yang berawal dari kisah pernikahan anak pertama Adipati Banyumas yaitu Pangeran Tirtakencana dengan putri dari Ki Demang Gumelem yaitu Dewi Sukesi. Pada waktu itu, rombongan pengantin pria datang membawa ubarampe atau sesangoning urip yang merupakan pikulan beserta 12 macam perlengkapannya. Barang-barang itu juga merupakan permintaan dari pengantin wanita.


Tanpa diduga, tiba-tiba di tengah jalan rombongan bertemu dengan begal atau Reka Guna. Begal ini berusaha akan merampok segala macam barang bawaan yang ada di pikulan. Sehingga terjadilah perkelahian. Perkelahian itu dimenangkan oleh pembawa pikulan. Dan semua barang bawaan pun terhindari dari rampasan.

Selain tradisi begalan dengan versi cerita di atas, terdapat pula cerita lain mengenai asal-asul begalan ini. Yaitu ketika kesalahpahaman terjadi antara pembawa pikulan dengan perwakilan pengantin wanita. Terjadilah perkelahian karena kekeliruan. Setelah perkelahian tidak ada yang memenangkan, akhirnya dijelaskanlah secara detail maksud dari rombongan ini. Mendengar pernyataan itu, perwakilan mempelai wanita merasa bersalah karena telah berbuat keliru. 

antusiasme warga

Dari beberapa versi kisah begalan, yang paling terkenal adalah kisah perampokan. Seperti penuturan mantan Wakil Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banyumas, Bambang Purwoko, “Begal itu identik dengan rampok,” katanya. Sehingga setelah kejadian perampokan yang menimpa rombongan Adipati, dibuatkanlah ritual begalan  untuk menghindari roh jahat atau kejadian sial yang tidak diinginkan.


Begalan ini selain dikenal dengan rampok, juga sebagai cara untuk memberikan nasihat atau sesangoning urip seperti makna dari pikulan. Menurut Seniman Begalan Aprit Supriyadi, pemberian nasihat yang dilakukan melalui ucapan biasa tentu akan mudah dilupakan. Namun jika pemberian petuah ini disampaikan melalui adat begalan bisa menjadi tontonan dan tuntunan yang menarik. Tontonan yang berarti pemberian petuah juga sekaligus sebagai sarana hiburan bagi warga yang menontonnya. Sedangkan tuntunan berarti menuntun atau memberi nasihat pada kedua pasangan. “Nasihat ini untuk bekal pengantin dalam berumahtangga,” katanya dalam bahasa banyumasan.

berebut ubarampe / pikulan

Setelah penjelasan makna dari pikulan ini selesai disampaikan, kemudian pembawa pikulan menari sambil berjalan ke luar tarub. Berada di tempat yang lebih longgar, untuk menghampiri warga yang bersiap merebut pikulan. Ini menjadi kebiasaan warga jika selesai begalan maka akan memperebutkan isi dari pikulan. Mereka percaya, siapa pun yang mendapatkan salah satu dari ke-12 macam ubarampe ini, maka akan mendapatkan berkahberlimpah.


Meski matahari sudah tinggi alunan musik jawa masih terdengar di rumah itu. Lalu-lalang kendaraan di jalanan berdebu dan kesibukan anak muda serta beberapa orang tua yang sibuk memainkan gadget, tak sama sekali menyurutkan suasana indah di pernikahan itu. 


Gedung-gedung bertingkat di Kota Purwokerto tak menggugurkan kebudayaan asli nenek moyang. Seperti begalan yang merupakan tradisi asli Banyumas. Selain tradisi begalan, di Banyumas terdapat 11 kelompok kesenian yang masih dilestarikan hingga sekarang. Dari tahun ke tahun jumlah kelompok kesenian ini selalu bertambah, meski pertambahannya memang tak begitu siginifikan. Begalan sendiri masuk ke dalam kelompok seni pertunjukan rakyat. Warga keturunan asli Banyumas dan sekitarnya terus melestarikan kebudayaan ini.


Termasuk di Purwokerto yang terkenal dengan pembangunan toko modern hingga hotel-hotel mewahnya yang semakin berbiak. Dalam acara resepsi pernikahan, baik di rumah biasa ataupun gedung mewah bertingkat, ternyata masih banyak warga Banyumas yang  tetap melaksanakan tradisi begalan. Seperti yang disampaikan Ruhyati, ibu dari mempelai wanita Desi Anggit Saputri. Meski tidak ada yang melarang pernikahan tanpa begalan.  Ia percaya bahwa pernikahan yang baik adalah pernikahan yang dilengkapi dengan tradisi begalan, karena menurutnya begalan merupakan tradisi turun temurun sejak dahulu kala yang harus terus dijalankan. “Kalo ngga pake begalan, rasanya tetep ada yang kurang,” katanya. 


warga berebut padi salah satu ubarampe

Tradisi begalan yang masih ramai dilakukan di tengah kemodernan kota Purwokerto, menandakan begalan tak terpengaruhi zaman. Dari zaman Adipati hingga saat ini, begalan masih tetap dilakukan. Dari golongan pejabat hingga orang biasa, semuanya pernah melakasankan begalan. “Saya pernah diundang untuk begalan sama anaknya pejabat,” kata Aprit Supriyadi yang mengawali karir seninya sejak menjadi cucuk lampah. Profesi Apritsebagai seniman begal dimulai sejak 1994. Hingga saat ini ia telah melaksanakan begalan berulang kali bersama seniman begal yang lain. “Setiap hari pasti ada kerjaan buat begalan,” katanya.


Iman Raharjo dengan Silvi Fitriani

Selain warga asli Banyumas, rupanya begalan tetap dilakukan sekalipun resepsi dilaksanakan di luar kota. Seperti penuturan Dosen Sejarah Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Profesor Sugeng Priyadi, yang mengatakan bahwa begalan bisa dilakukan dimana saja. “Semua orang bisa melakukannya. Bahkan mungkin orang yang diluar Banyumas tapi masih asli keturunan Banyumas,” katanya. Termasuk ketika Aprit Supriyadi melaksanakan begalan di Purbalingga pada 3 Februari lalu. Pengantin pria Iman Raharjo, warga Karanglewas melaksanakan resepsi pernikahan di rumah mempelai wanita Silvi Fitriani. Silvi merupakan warga Purbalingga dan sejatinya ia tak begitu lekat dengan begalan. Karena Iman merupakan anak pertama, disertakanlah begalan menjadi bagian dari upacara adat pernikahan. Ciri khas dari begalan adalah guyonan-guyonannya yang menggambarkan watak asli masyarakat Banyumas.


warga berebut pikulan
Sementara itu untuk peralatan begalan yang terdiri dari 12 macam memang sudah ada pakemnya. Namun untuk modifikasi dan menambah daya tarik warga, penambahan peralatan tidaklah menjadi masalah. Seperti yang telah disebutkan bahwa peralatan begalan pakemnya terdiri dari bambu, kayu, tanah liat hingga tempurung kelapa. Untuk menambah daya tarik bisa ditambahkan dengan peralatan rumah tangga lainnya seperti panci, wajan, sorok atau barang-barang yang lain.

Dalam setiap penampilannya Aprit Supriyadi mencari topik terhangat untuk dibawakan ketika melakukan begalan. Misalnya dengan memakai tokoh sinetron yang sedang ramai ditonton masyarakat. Hal ini akan lebih mudah diterima. Bahasa yang digunakan pun merupakan bahasa sehari-hari atau bahasa banyumasan. Cara penyampaian makna dalam begalan memang tidak ada pakemnya. Sehingga para seniman begal seringkali menyisipkan humor dalam setiap percakapannya. Ia juga mengatakan bahasa yang digunakan masyarakat Banyumas adalah bahasa banyumasan, bukan bahasa ngapak seperti yang orang lain biasa dengar. “Itu jadi streotipe negatif orang jawa,” katanya.

***
Selesainya acara begalan di pernikahan itu, para penjemput tamu membuka tudung saji makanan dan mempersilahkan tamu yang hadir untuk menikmati hidangan yang baru masak. Seusai prosesi adat dilakukan, rangkaian acara resepsi pernikahan dilanjutkan dengan berfoto bersama pengantin.


Selanjutnya Sebelum Mendoan Menjadi Tempe

SHARE
Previous articleLIPUTAN KHUSUS
Next articleLIPUTAN KHUSUS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here