Libur Karena Pandemi, Bagaimana Kabar Kantin Unsoed?

0
775
Kantin yang tampak sepi saat pandemi (cahunsoed.com / Adhytia Mahendra)

“Walaupun tiap hari buka masih belum bisa menutup biaya sewa. Ya sekedar ikut makan, lah. Dibilang kurang tapi tiap hari masih bisa makan. Dibilang lebih ya tidak bisa menabung, ujar Trini, salah seorang pedagang di FPIK.

Purwokerto Cahunsoed.com, Selasa (8/12) Pandemi yang terjadi secara tiba–tiba membuat semua aktivitas perkuliahan dilakukan secara daring. Selain mahasiswa, pedagang kantin juga ikut merasakan dampak kuliah daring. Permasalahan yang terjadi cukup beragam mulai dari sepinya pembeli hingga terpaksa tutup walau sudah terlanjur membayar uang sewa. Hal senada dikeluhkan oleh Endah Sukiwati, salah satu pedagang kantin di Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik (FISIP).

“Iya karena pandemi jadi libur tiga bulan. Kemarin sudah terlanjur membayar sewa jadi eman–eman (red : rugi) kalau ngga buka, karena ngga ada pemasukan sama sekali,” ujarnya.

Keluhan yang sama juga dirasakan Trini, pedagang kantin di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) yang mengharapkan keringanan biaya sewa. Ia menyebutkan yang penting hari ini bisa makan ialah hal yang dia syukuri.

“Walaupun tiap hari buka masih belum bisa menutup biaya sewa. Ya sekedar ikut makan, lah. Dibilang kurang tapi tiap hari masih bisa makan. Dibilang lebih ya tidak bisa menabung,” ujarnya.

Pandemi ini membuat banyak kantin terpaksa harus tutup. Agar tetap mendapatkan pemasukan, tak sedikit dari mereka yang terpaksa melakukan pekerjaan sambilan untuk tetap menyambung hidup. Sumudirosin, pedagang kantin di Fakultas Biologi bercerita selama kantin tutup dia bekerja sambilan dengan membuat masker kain.

“Karena basic aslinya saya penjahit, jadi saya ikut usaha di bidang masker sehingga sedikit-sedikit bisa membantu ekonomi saya yang cukup terpuruk kemarin,” ujarnya.

Permasalahan tak berhenti hanya dari pemasukan yang berkurang secara drastis. Masih belum jelasnya Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) dalam meberikan keringanan biaya sewa dipertanyakan oleh Samsong Hadi Siswanto, salah satu pedagang kantin di Fakultas Teknik yang dikelola oleh Badan Pengelolaan Usaha (BPU).

“Keputusannya sih belum tahu. Saya menunggu hingga April. Kalau ditagih lagi berarti tidak ada keringanan,” ujarnya.

Berbeda nasib dengan kantin di Fakultas Teknik, kantin yang berlokasi di Kantor Pusat Admnistrasi Unsoed yang juga berada dibawah pengelolaan BPU justru mendapatkan kelonggaran.

“Diundur bayarnya. Biasanya bayar bulan November sekarang diundur jadi Januari tapi harga sewanya tetap sama,” ujar kata Rini salah satu pedagang di Kantin Pusat Administrasi.

Infografis pemetaan biaya sewa kantin di Unsoed (Cahunsoed.com/Nadinta Zulfa)

Masalah kesulitan pembayaran sewa kantin akibat COVID-19 sudah terdengar sampai ke telinga rektor. Namun, sampai saat ini belum ada tindakan tegas dari Rektorat. Bahkan, rasa empati sama sekali tidak ditunjukan rektor kepada para penyewa kantin kampus.

“Tinggal melakukan pengajuan saja ke Dekan atau Rektor. Itu kan bagian dari resiko usaha. Mungkin nanti tahun depan bisa mengajukan keringan biaya sewa, tapi kalau sekarang uangnya dikembalikan ya tidak bisa kan itu resiko usaha,” ujar Suwarto saat kami temui di Gedung Rektorat Unsoed.

Polemik yang dirasakan pedagang kantin mengenai keringanan biaya sewa saat pandemi ini merupakan buntut masalah dari perbedaan dalam pengelolaan kantin di Unsoed. Kami mencoba menemui Kepala BPU Unsoed, Agus Suroso sebagai pihak yang berwenang untuk menjawab permasalahan ini. Namun jawaban nihil kami dapatkan atas kebungkaman yang ia berikan.

Akhirnya kami menemui pihak lain yang bisa menjawab pertanyaan kami. Sekertaris BPU, Waluyo Handoko mengaku kantin yang berada dibawah pengelolaan BPU hanya Kantin Pusat Administrasi, Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa), dan Fakultas Teknik. Sedangkan sisanya diurus oleh fakultas masing–masing.

“Masalah ini memang jadi polemik. Tidak semua kantin diserahkan ke kita. Secara normatif, aset kantin yang dikelola BPU itu hanya kantin yang ada di kantor Pusat, Rusunawa, dan Fakultas Teknik. Karena yang ada di Surat Keputusan (SK) kami hanya itu,” ujarnya.

Waluyo menambahkan BPU tidak mendapatkan pendapatan dari uang kantin. BPU hanya bertugas mencatat pemasukan, lalu pendapatan itu akan langsung masuk ke rekening Rektor.  Selain masalah belum adanya SK, menurut Waluyo ada beberapa fakultas yang tidak rela kantinnya ditangani BPU.

“Memang ada fakultas yang tidak berkenan kantinnya dikelola BPU. Mereka “merasa” sudah membangun dan menjadi salah satu pendapatan fakultas. Padahal sekarang semua pendapatan langsung masuk ke rekening Rektor,” ujar Waluyo.

Carut marut dalam pengelolaan, baik dari regulasi maupun sistem yang dibuat masih belum ada kejelasan. BPU dan fakultas sebagai pihak penyedia fasilitas hanya bisa saling melempar tanggungjawab.

Reporter : Huqqy Pratanda, Farhan Fauzi, Adhytia Mahendra

Penulis : Huqqy Pratanda

Editor : Laksmi Pradipta Amaranggana

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here