Kuliah Online: Irisan Keresahan Dosen dan Mahasiswa

0
395
Ilustrasi (Cahunsoedcom / Nadinta Zulfa)

Seperti yang kita ketahui, pandemi Covid-19 memberikan dampak pada segala bidang kehidupan, salah satunya pada bidang pendidikan yang memaksa proses pembelajaran perkuliahan dilakukan secara daring. Pasalnya, kuliah daring sudah satu tahun berjalan, tetapi masih banyak persoalan yang terjadi.

Sebagian dosen dan mahasiswa menyesalkan kuliah daring karena dinilai kurang efektif. Di sisi lain, sebagian dosen dan mahasiswa merespons positif kuliah daring karena lebih fleksibel dalam mengikuti perkuliahan tanpa terikat waktu dan tempat. Namun ternyata respons positif tersebut tidak sebanding dengan berbagai permasalahan yang dirasakan oleh dosen maupun mahasiswa.

Permasalahan Dosen dan Mahasiswa

Kuliah daring tak luput dari permasalahan dan kendala perkuliahan yang sangat beragam. Tidak sedikit kasus dimana dosen dan mahasiswa mengeluh karena ketersediaan jaringan internet yang mengakibatkan penyampaian materi dari dosen tidak maksimal. Bahkan, tak jarang dosen dan mahasiswa terpaksa tidak bisa mengikuti perkuliahan.

Penggunaan kuota internet yang tidak sedikit juga menjadi permasalahan dalam kuliah daring khususnya mahasiswa. Selama satu hari, mahasiswa mengikuti perkulihan hingga berjam-jam, tetapi bantuan kuota yang diberikan oleh Kemendikbud masih dirasa kurang. Hal ini menjadikan mahasiswa perlu merogoh kantong untuk membeli kuota tambahan.

Permasalahan lainnya adalah terkait kemampuan pengoperasian perangkat digital yang berbeda-beda. Beberapa dosen senior mengaku sulit memahami penggunaan teknologi untuk mendesain kreativitas dalam mengajar sehingga mereka memilih untuk menggunakan platform pembelajaran lain yang lebih sederhana daripada platform e-learning yang telah disediakan institusi. Hal itu dikarenakan fitur yang ada di e-learning institusi dirasa rumit dan sering mengalami trouble.

Dengan terpaksa, dosen menggunakan platform lain yang beragam seperti Google Classroom dan Whatsapp. Padahal platform selain e-learning dari institusi untuk presensi, tugas, dan penilaian tidak dapat diintegrasikan dengan Sistem Informasi Akademik (SIA). Hal ini mengakibatkan beban administrasi dosen bertambah, selain harus membuat presensi manual, dosen juga merekap hasil tugas dan ujian mahasiswa secara manual.

Platform yang beragam ini juga menyulitkan mahasiswa untuk mengakses perkuliahan. Mahasiswa merasa kebingungan dikarenakan masing-masing mata kuliah menggunakan platform yang berbeda. Akibatnya, mahasiswa sering terlewat presensi bahkan terlambat mengumpulkan tugas. Selain itu, permasalahan eksternal yang sering dikeluhkan mahasiswa yaitu kurang kondusifnya keadaan lingkungan rumah yang menjadikan mahasiswa sulit berkonsentrasi selama perkuliahan.

Proses Transfer Ilmu selama Kuliah Daring

Semua permasalahan selama kuliah daring berimbas pada tingkat pemahaman mahasiswa terhadap materi perkuliahan. Hal ini menjadikan proses transfer ilmu antara dosen dan mahasiswa tidak optimal. Dosen sebagai tenaga pendidik memiliki peranan penting dalam keberlangsungan kuliah daring yang mana ditempatkan sebagai subjek yang harus melakukan proses transfer ilmu kepada mahasiswa. Dosen memerlukan strategi untuk terus berinovasi agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan lancar.

Dalam praktik pelaksanaannya, dosen hanya memberikan tugas yang menumpuk tanpa memberikan umpan balik (feedback). Bahkan beberapa dosen tidak melakukan kuliah sinkronus, melainkan hanya memberi bahan pengajaran. Sama halnya dengan mahasiswa yang sebatas hadir dalam perkuliahan, mengisi presensi, dan mengumpulkan tugas.

Dalam proses transfer ilmu, sebagian mahasiswa merasa kesulitan dalam memahami materi karena interpretasi tiap mahasiswa berbeda-beda, persoalan jaringan pada saat pelaksanaan kuliah daring juga menjadi salah satu faktor penentu tingkat pemahaman mahasiswa terhadap materi yang disampaikan. Ini menjadi salah satu penyebab mahasiswa merasa enggan untuk mengajukan pertanyaan dalam perkuliahan sehingga perkuliahan menjadi kurang interaktif.

Dosen dan mahasiswa terkesan hanya sebatas menggugurkan kewajiban tanpa mengingat tujuan awal dari sebuah pendidikan. Bahwasanya, tujuan pendidikan itu harus senantiasa mengacu kepada tiga ranah yang melekat pada mahasiswa, yaitu ranah proses berfikir/kognitif, ranah nilai sikap/afektif, dan ranah keterampilan/psikomotorik (B. S. Bloom 1956). Kuliah daring dalam praktik pelaksanaannya cendurung hanya kepada pemenuhan aspek kognitif dan psikomotorik, sedangkan aspek afektif mengalami stagnasi. Seyogyanya setiap perguruan tinggi dapat memberikan bekal afektif yang sejalan dengan upaya peningkatan ilmu pengetahuan bagi mahasiswa (Prof. Intan Ahmad, Ph.D.)

Praktik pendidikan selama kuliah daring sejalan dengan gagasan yang dikemukakan oleh Paulo Freire yang dikenal dengan istilah “gaya bank” yaitu pendidikan yang menjadikan dosen sebagai pemeran utama dan mahasiswa harus menerima apapun yang disampaikan oleh dosen, mahasiswa tidak diberikan ruang gerak yang bebas sehingga yang dihasilkan bukan mahasiswa yang kritis, melainkan mahasiswa yang seperti robot.

Optimal tidaknya proses transfer ilmu selama kuliah daring dipengaruhi oleh partisipasi antara mahasiswa dan dosen. Kuliah daring dapat terus di evaluasi oleh mahasiswa, dosen, maupun institusi agar proses pendidikan dapat dijalankan lebih baik tanpa mengurangi esensi pendidikan itu sendiri.

Penulis: Laely Arifah

Reporter: Laely Arifah, Fildzah Lathifah

Editor: Annisa PMC, Rafli Nugraha

*) Opini kolumnis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera

Referensi :

Herdiana, Dian. 2020. Permasalahan Kuliah Daring bagi Dosen dan Mahasiswa. https://www.kompasiana.com/kyberdian/5f6e0187097f3621ee4fd592/permasalahan-kuliah-daring-bagi-dosen-dan-mahasiswa?page=all#section1 (diakses: 24 April 2021)

Muzaqi, Fahrul. 2020. Menguji Efektivitas Kuliah Daring. https://ikilhojatim.com/menguji-efektivitas-kuliah-daring/ (diakses: 25 April 2021)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here