Empat Puluh Bidikmisi Terancam Dicabut

0
247

Purwokerto – Cahunsoed.com, Rabu (7/10), Sebanyak 40 mahasiswa penerima Beasiswa Pendidikan Bagi Mahasiswa Berprestasi (Bidikmisi) terancam dicabut. Hal ini terjadi lantaran adanya pemangkasan kuota Bidikmisi yang diterima Unsoed. Seperti yang dikatakan oleh Kasubbag Akademik dan Evaluasi Unsoed, Eko Sumanto, “Awalnya kuota yang kita prediksi sekitar 650 mahasiswa sama seperti tahun 2014, lalu 2015 kita buka 615 kuota bidikmisi, tapi ternyata dari Dikti hanya 575 mahasiswa,” katanya.

Untuk mengakali hal tersebut, pihak Unsoed berinisiatif mencabut beberapa Bidikmisi mahasiswa agar sesuai dengan kuota Kemenristekdikti. Pada 18 September 2015, Eko Sumanto mengumpulkan sekitar 40 mahasiswa Bidikmisi ke Kantor Administrasi Pusat untuk menginformasikan hal ini. Mahasiswa yang dipanggil, rupanya langsung dibatalkan dari daftar penerima Bidikmisi.

Selain untuk mengurangi kuota, pihaknya mengganggap 40 mahasiswa tersebut tidak layak mendapatkan Bidikmisi. (Baca: Unsoed Kekurangan Dana Survei Bidikmisi) “Jadi ada dua pilihan, pertama dia masih  bisa mendapatkan Bidikmisi jika kuota 575 itu ternyata ada yang tidak sesuai, kedua dia masuk UKT level terendah. Tapi kami akan usahakan ke Dikti agar kuota Bidikmisi ditambah lagi,” katanya.

Umahatun Fardiyah, salah satu mahasiswa yang dipanggil oleh Unsoed, mengaku kecewa dengan keputusan ini. Ia menyayangkan informasi kuotyang diberikan justru saat sudah diterima sebagai mahasiswa Bidikmisi. “Kecewa bangetlah, pemberitahuannya cuma lewat sms, saya juga kasihan sama orang tua padahal income perkapita kurang dari 750 ribu,” kata mahasiswa Jurusan Sosiologi 2015 ini.

Ketua Himpunan Mahasiswa Bidikmisi, Ahmad Muslikh, meminta agar Unsoed segera  mencari solusi terkait permasalahan ini. “Ada banyak cara, seperti pengalihan Bidikmisi 2013 dan 2014 yang sudah pindah dan tidak memberitahukan ke kampus, itu bisa kita alihkan untuk mereka,” katanya.

Berdasarkan data yang dihimpun Cahunsoed.com, Bidikmisi adalah bantuan yang diberikan oleh Kemenristekdikti kepada PTN dan PTS. Sejak diterapkan pertama kali pada tahun 2010 kuota Bidikmisi Universitas Jenderal Soedirman relatif meningkat, 2010=107, 2011=325, 2012=580, 2013=600, dan 2014=650 mahasiswa. Sedangkan menurut Menristekdikti, Muhammad Nasir, seperti yang dilansir dari Republika.co.id, pada (27/12/2014), tahun 2015 Pemerintah berencana menambah Kuota Bidikmisi, dari 40 ribu menjadi 60 ribu.

Sedangkan menurut Pedoman Penyelenggaraan Bidikmisi 2015, penghentian status mahasiswa Bidikmisi disebabkan oleh pelanggaran berupa pemberian data palsu, mengundurkan diri, meninggal dunia, dan lulus kurang dari masa studi (red-pengalihan).

 

Bidikmisi Yang Dicabut Adalah Keluarga Berpenghasilan Diatas 750 ribu

Saat dikonfirmasi terkait masalah ini, Wakil Rektor I Bidang Akademik, Mas Yedi Sumaryadi, mengatakan, menurunnya kuota bidikmisi karena munculnya PTN baru, sehingga jatah PTN lama banyak yang dialihkan. Sedangkan mekanisme penetapan 40 mahasiswa yang Bidikmisinya mesti dicabut diperoleh dari penghitungan penghasilan lebih dari 750 ribu perbulan. “Mereka Income perkapita 750 ya seharusnya tidak dapat Bidikmisi dong,” kata mantan rektor Unsoed ini saat ditemui diruangannya, Rabu (7/10). Sedangkan Ahmad Muslikh berpendapat bila 40 mahasiswa tersebut layak mendapatkan Bidikmisi. “Jangan sampai teman-teman tidak bisa kuliah karena Bidikmisinya dicabut,” katanya.

Eko Sumanto, menjelaskan lebih lanjut, pihaknya akan mengadakan pertemuan dengan seluruh mahasiswa Bidikmisi 2015 di Gedung Soemardjito untuk membahas permasalahan ini lebih lanjut, pada Jumat (9/10) esok.  (TRI/RSK/FHR/IJL/DYH/ICA)

SHARE
Previous articleUKT Mahasiswa Masih Bermasalah
Next articleElemen Mahasiswa Peringati Sumpah Pemuda
Cahunsoed.com adalah Portal Berita Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) SOLIDARITAS Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto yang menyajikan berita dan kejadian-kejadian seputar dunia kampus, pendidikan, pemuda, kreativitas, serta berita seputar Banyumas. Selain itu, kami senantiasa menjadi “watch dog” atau kontrol kuasa atas kebijakan-kebijakan kampus.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here