Bukan April MOP, inilah POM

0
86

Sejak 2005 inilah POM tidak lagi melibatkan mahasiswa, jangan heran jika penarikan yang dajukan kepada para Orang tua mahasiswa sampai mencekik leher. RAB yang dirancang terlihat elitis ditingkatan Fakultas

 

Oleh : Aulia El Hakim

 

 April 1989. Sering kali dibulan ini dihiasi oleh tingkah-tingkah muda-mudi untuk sekedar jahil dengan ‘April MOP’ kepada sesama teman ataupun kekasihnya, bahkan lebai (berlebihan), sekalipun itu tanda sayang. Ditahun 1989 sepertinya April MOP juga dirayakan kampus beserta para pengelola. Rektorat mungkin punya maksud baik — yang bisa saja setingkat rasa sayang– untuk membantu mahasiswa meningkatkan kualitasnya, melihat dana SPP/DPP telah berulangkali terlambat turun ke Universitas dan kurang mencukupi terhadap perkembangan, sehingga merekapun menjahili mahasiswa agar orang tuanya merogoh kocek lagi dengan dibentuknya POM. Sekiranya begitu jika dihubung-hubungkan, sungguh jahil. 

 

Ternyata ini bukan April MOP sekalipun jika membacanya dibalik menjadi POM. Perbedaanya,  yang pertama kejahilannya selesai dibulan itu juga, sedangkan yang kedua masih berlangsung hingga kini. Lembaga ini berawal di  diruang 7 kampus Kalibakal, ketika itu FISIP belum berdiri. Lalu Prodi AN dan Sosiologi bersama mahasiswa serta para orang tua mendirikan lembaga ini, sebuah lembaga yang Fenomenal sepanjang sejarah FISIP akibat masalah yang dibuatnya tidak juga kunjung usai hingga kini.

Pada mulanya POM dikelola secara bergantian oleh mahasiswa dan bapendik. Nasikhin Masa yang juga pendiri SOLIDARITAS saat itu menjabat sebagai ketua Senat Mahasiswa, ia bersama teman-temannya mengusahakan agar POM dikelola oleh mahasiswa, tentu karena sebelumnya memiliki prediksi jika lembaga ini riskan akan penyalah-gunaan seandainya tidak dipegang oleh orang yang tepat. Keberadaan mahasiswa ditahun 89-an diamini oleh pelaku sejarah Fisip pak Bambang Widodo, bahwa pada masa itu mereka memiliki bargaining position yang kuat dikampus.

 

Ditahun itu POM hanya menarik Rp 12.000, atau jika sekarang paling hanya berkisar Rp 100.000, sebuah gambaran yang meyakinkan bahwa ini benar-benar bukan April MOP yang suka jahil sampai mengiris perih isi hati, melainkan suara kasih-sayang orang tua untuk membantu putra-putrinya. Mekanisme ini terjadi karena keberadaan mahasiswa mampu menekan nominal hingga titik paling bawah sesuai kebutuhan, berbeda dengan yang sekarang terjadi. Sedangkan saat ini mahasiswa samasekali tidak terlibat baik dalam pembuatan RAB yang diajukan ke POM maupun pengelolaan. Bahkan untuk melihat LPJ dan RAB POM saja crew LPM Solidaritas, sebagai lembaga pers kampus sangat dipersulit. Dan jadi hal yang cukup wajar jika ada ungkapan “jika bersih, kenapa risih”.

 

Mahasiswa mengelola POM bukan berarti tanpa kesulitan, terbenturnya jadwal kegiatan dan proses perkuliahan menjadikan POM tersendat-sendat. Ini terjadi di periode Senat mahasiswa dipimpin oleh Anang Rahmadi, oleh karena itu Bapendik pun akhirnya mengambil alih POM. Seperti dilahirkan untuk menjadi masalah, POM ditangan Bapendikpun mengalami hal yang sama dialami oleh mahasiswa, hingga akhirnya dikembalikan lagi kepada Senat Mahasiswa. Pengembalian ini dipegang oleh Susilo, ketua Senat setelah Anang Rahmadi. Perjalanan ini diiyakan oleh Dosen Komunikasi yang biasa dipanggil pak Dodit “pokoknya dulu ya mas hakim, mahasiswa dan bapendik gantian terus”.

 

Pergantian pengelolaan yang selalu silih berganti ini berlangsung hingga tahun 1993. Selanjutnya, karena adanya perpindahan kampus dan kemudian Fisip berdiri secara resmi, juga seiring dengan Alm. Prof.Soemardji menanggalkan jabatannya sebagai kepala Prodi Sosiologi untuk menjadi Dekan pertama Fisip, POM dipegang oleh Fakultas seutuhnya. Bukan berarti dikelola oleh Fakultas, namun Fakultas mengkoordinir kembali sehingga diputuskan dikelola oleh Orang tua mahasiswa. Pada saat itu Pak Suswoyo yang juga pernah menduduki kursi dekan di Fakultas Pertanian menjabat sebagai ketua dan bendaharanya adalah pak Sukimin, pemilik PO.Dewi Sri.  

 

Apakah kemudian lembaga perogoh kocek orangtua ini berjalan lancar? Kehidupan POM selalu diringi oleh kerancuan, baik mekanisme penarikan maupun implementasinya. Ditangan pak Suswoyo dan pak Sukimin POM hanya berlangsung hanya sampai tahun 1996 dan selanjuntnya pada masa kepemimpinan Dekan Prof.R. Soejatno mengantikan Prof.Soermadji yang wafat sebelum masa jabatan berkhir, lembaga persatuan orang tua ini bubar, meki begitu Fisip tidak ikut bubar sekalipun POM telah tiada. Selain itu, ini juga salah satu ekses dari  tetap kritisnya mahasiswa menyikapi dan masih terlibat dalam pembahasan POM  walaupun tidak lagi mengangani.

 

Dari 1996 hingga 2006 Fisip tetap hidup tanpa POM. Berdasarkan penuturan PD III periode lalu, pada pertengahan tahun ajaran 2005-2006 atas perintah dari tinggat Rektorat (bukan Fakultas) POM Fisip dihidupkan kembali, bermula dari AN yang kemudian diputuskan agar semua jurusan ikut mendirikan. Lalu hasil keputusan rapat pembentukan tersebut mengeluarkan tarikan dana  di setiap jurusan sama rata, sebesar Rp 400.000.

 

Kemudian pada awal ajaran 2006-2007, penarikan naik ditiap jurusan hingga ada yang membayar angka belasan juta. Tembus hingga nominal yang sangat besar tersebut tidak lain akibat dari model penarikan dilakukan dengan wawancara tertutup oleh panitia yang penerimaan di tiap jurusan. “Dengan wawancara yang tertutup itu, kita bisa lebih efektif menarik dana yang besar” ungkap pak Haryanto selaku ketua POM Fisip.

 

Sejak 2005 inilah POM tidak lagi melibatkan mahasiswa, jangan heran jika penarikan yang dajukan kepada para Orang tua mahasiswa sampai mencekik leher. RAB yang dirancang terlihat elitis ditingkatan Fakultas, yang sering kali mengatas namakan kebutuhan mahasiswa dalam menarik uang orang tua mahasiswa, apalagi dengan suasana yang terkesan mengancam. Bagaimana mungkin tidak terasa mengancam atau sukarela, sedangkan setiap orang tua selalu ingin anaknya melanjutkan jenjang pendidikannya, dan penawaran besaran POM ditawarkan saat wawancara sebelum masuk ke Universitas. 

 

Setelah crew Solidaritas meng-cross ceck, ternyata didalam LPJ POM yang sulit diakses tersebut, pada tahun 2006 dari dana yang didapat sebesar Rp 961.074.375 dan digunakan untuk pembangunan gedung sejumlah Rp 567.000.000. Dengan kata lain, sebagian besar digunakan untuk pembangunan gedung. Terkait prioritas penggunaan POM pak Bambang Suswanto (PD III) juga mengukapkan “POM memang selama ini diprioritaskan untuk pembangunan gedung, tapi insya Allah kedepan akan kami berikan pembagian 50-50”. Sedangkan dalam reportase crew Solidaritas, terkait pembangunan gedung, mahasiswa sendiri menyatakan bahwa mereka belum terlalu butuh.

 

Merujuk pada statement yang dikeluarkan Rektor Unsoed kepada crew Solidaritas di Rektorat “Tanpa POM sebenarnya cukup kalau dicukupin”. Artinya tidaklah terlalu besar kebutuhan mahasiswa sesunguhnya, atau tanpa POM pun sebenarnya cukup untuk operasional. Namun yang tercantum dalam LPJ tahun 2006 untuk operasional saja, dana yang dikeruk dari POM mencapai 215juta rupiah, dan tidak terijitkan secara jelas digunakan sebagai operasional yang seperti apa, yang ada hanyalah keterangan tanggal keluar. Dan untuk sarana dan buku diluar 215juta hanya disediakan 20juta. Tentu ini menjadi sebuah pertanyaan besar, jika tanpa POM saja cukup mengapa mengambil hingga sebegitu banyaknya, apakah terlalu banyak operasional yang tidak terlalu penting. Bukankah jika tanpa POM cukup. Mungkin inilah salah satu logika mengapa mahasiswa sama sekali tidak dilibatkan.

 

Selanjutnya, perihal LPJ POM 2007. Selaku bendahara POM Fisip, pak Soedarmadji menyatakan bahwa LPJnya belum dibuat, beliau tidak menuturkan alasan yang jelas, padahal kini sudah pada pertengahan tahun ajaran 2008-2009. Sungguh aneh, semoga saja memang belum dibuat, bukan belum dimanipulasi. Namun terkait prioritas penggunaan, beliau mengatakan bahwa prioritas masih pembangunan gedung, yaitu sebesar 750juta rupiah digunakan untuk pembangunan gedung tiga lantai pengganti ruang lima, sehingga jika ditotal menghabiskan 1,3 milyard rupiah.

 

Kemudian melihat dana yang berlebihan besar nominalnya dan dikeluarkan untuk pembangunan gedung yang belum begitu dibutuhkan mahasiswa, seperti yang diungkapan Nisa, mahasiswa jurusan politik “kalau ternyata untuk pembangunan gedung yang pastinya berbiaya besar, belum saatnya, belum butuh”. Dan juga dalam beberapa reportase, sebagian besar mahasiswa merasa bahwa gedung baru belum saatnya menjadi prioritas. Mungkin ini seperti sebuah pilihan buruk ditengah ekonomi yang terpuruk, seperti memilih mencekik leher bapak-ibu dibanding hidup normal, memilih membangun gedung baru dibanding memprioritaskan peningkatan kualitas mahasiswa.

 

Selain itu, dalam kisaran waktu 2005 hingga sekarang, POM masih tetap tidak jelas. Hal ini tercermin dari lahirnya induk setelah punya anak; dimana POM ditiap fakultas pada tahun 2005 hingga awal 2007 tidak berbadan hukum, kemudian berbadan hukum dengan menginduk pada POOM (Persatuan Organisasi Orang tua Mahsiswa) yang berdiri pada pertengahan 2007. Kerancuan ini diperparah lagi dengan selalu berubah-ubahnya metode wawancara ditiap tahunnya, implementasi yang kurang transparan dan terlihat hanya menjadi alat oleh Universitas untuk mengeruk uang dari para Orang tua mahasiswa.

 

Lembaga ini tidak memiliki kekuatan dalam pembuatan kebijakan. Semisal; POM tidak diikutkan dalam pembuatan RAB yang dikemudian akan ditagihkan kepada anggotanya, selanjutnya ia juga tidak memegang uang yang mereka terima, sebab semua uang masuk kerekening Rektor. Sehingga terkesan bahwa lembaga ini hanyalah boneka pemeras uang dari Universitas. 

“POM itu dienyahna ndase, tapi dicekeli buntute” ungkap ketua POM Fisip, menegaskan bahwa lembaga ini dalam sejak 2005, hanyalah bumper depan Universitas. Menjadi pemodal dan penyandang dana terbesar, namun tidak memilki kekuatan dalam kebijakan, sekedar boneka. Begitupun bendahara Universitas juga turut mengakui bahwa Universitas terlalu dimanjakan oleh keberadaan POM.

 

POM saat ini juga sebagai pemodal utama Unsoed menjadi BLU (badan Layanan Umum Pemerintah), sebagaimana yang diunkapkan oleh pak Bondan anggota Tim BLU “POM itu pemodal terbesar dalam proses menuju BLU”. Dengan makna lain, uang orang tua mahasiswa yang terkumpul di rekening rektor merupakan alat vital bagi Unsoed menuju bisnis pendidikan yang akan diselenggarakan oleh BLU, yang pada saatnya akan mendirikan berbagai sarana seperti Sport Center, Rumah sakit, dan lain-lain yang tentunya mebutuhkan dana sangat besar. Memang mejadi sulit dibayangkan kesulitan orang tua yang harus membiyai itu semua.

 

Besaran uang yang meningkat tajam tiap periode juga ternyata tidak menjamin peningkatan akademik sesuai prosentasenya. Dari sebelum tahun 2005 hingga POM  saat ini berbiaya belasan juta, peningktan akademik yang tercantum dalam buku monitoring tidak seimbang, grafik terlihat tidak setabil.

Begitulah perjalan hidup POM sejak April 1989. Ketidak beresan penanganan, nominal yang setinggi langit, diprioritaskan pada pembangunan gedung, mekanisme wawancara yang tidak jelas, implementasi yang membingungkan, kurang transparan, pemodal utama pembangunan, hanya menjadi alat universitas, mahasiswa tidak dilibatkan dan berbagai kerancuang yang mungkin belum terungkap. Ini semua memastikan bahwa POM dengan segala kejahilannya bukanlah sekedar permainan laiknya April MOP yang seenaknya menjahili seseorang. Perlu dintidak secara serius, baik dari kalangan mahasiswa, orang tua maupun para pejabat ditingkat Fakultas dan Universitas. Inilah POM bukan April MOP.

SHARE
Previous articleUsaha Kecil dan Menengah ; Pilihan Kemandirian Bagi Banyumas
Next articleKonservatisme
Cahunsoed.com adalah Portal Berita Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) SOLIDARITAS Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto yang menyajikan berita dan kejadian-kejadian seputar dunia kampus, pendidikan, pemuda, kreativitas, serta berita seputar Banyumas. Selain itu, kami senantiasa menjadi “watch dog” atau kontrol kuasa atas kebijakan-kebijakan kampus.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here