LIPUTAN KHUSUS

0
4

Sebelumnya Rampok Di Tengah Resepsi Pernikahan


Sebelum Mendoan Menjadi Tempe

Oleh: Alexander Agus Santosa

Ini bukan pertempuran umat manusia melawan decepticon. Bukan pula kisah perjuangan John Connor menghancurkan Terminator. Bukan lain hanya sebuah permainan Bawor melawan orang-orang kantor

Adit

Sore itu seorang anak berusia lima tahun sedang bermain girang di samping air mancur yang terpampang persis di depan alun-alun. Adit besama seorang temannya berlarian saling berkejaran menembus hembusan air itu. Disampingnya seorang ibu memantau anaknya, ia terlihat berlari kecil menghindar dari cipratan air yang tercecer. Dirinya sibuk memanggil-manggil nama anaknya di kerumanan itu, untuk mengingatkan supaya mendekat. Tangan kirinyanya memegang semangkuk nasi bercampur sayur lodeh yang sudah dingin. Kala adit mendekat, tanpa mengucapkan apapun, tangan kananya langsung menyuapkan saja sesendok panganan ke mulut si anak. Hesti terus memantau anaknya yang langsung berlari ke arah teman-temannya setiap kali mulutnya mendapatkan sesuap nasi. Di sekelilingnya ia melihat anak-anak lain yang juga berlarian bermain air. Sesekali matanya melihat kearah seberang jalan.


Melirik bangunan besar yang sudah melibihi tinggi pendopo dan tiang bendera, meski belum jadi. “Kayane bakal gede ya mas, jarene nganti lantai pitu apa ya?” kata Hesti kepada Cahunsoed.com. Di depan alun-alun persis, satu arah pandangan di depan Pendopo Si Panji sedang di bangun sebuah bangunan mall yang menurut kabar menjadi mall terbesar se-Jawa Tengah. Pembangunan mall ini sudah di rencanakan sejak 2007, peletakan batu pertamanya dilakukan oleh sang Bupati, Mardjoko pada tahun 2012. Semenjak peletakan batu pertama mall ini, pro-kontra banyak bermunculan.

Salah satu yang menolak pembangunan mall ini, datang dari Dosen Teknik Sipil Universitas Wijayakusuma, Indrayana Gandadinata. Ia berpendapat posisi mall yang berada persis di depan alun-alun dapat merusak nilai-nilai budaya Jawa. Identitas pendopo sebagai simbol persinggahan dan kekuasaan bupati akan sirna dikalahkan oleh nilai dari bangunan lain. “Semua pendopo jawa bagian utara menghadap ke utara, yang di selatan ya menghadap ke selatan. Di komplek alun-alun tidak boleh ada bangunan yang lebih tinggi daripada pendopo,” kata Indrayana saat di wawancari Cahunsoed.com di rumahnya, beberapa waktu lalu. “Salah besar bila di depan Pendopo Si Panji yang menghadap ke laut di halangi oleh bangunan perbelanjaan seperti itu, ke-sakral-an alun-alun bisa hilang,” katanya.

Pria lulusan Univeristas Trisakti dan Universitas Diponegoro ini juga mengatakan, ada penyimpangan wewenangan dalam pembangunan mall ini. Pada Peraturan Daerah Kabupaten Banyumas nomor 6 tahun 2002 tentang Rencana Umum Tata Ruang Kota (RUTRK) dengan Kedalaman Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK) Purwokerto. Pada pasal 30 ayat 5 disebutkan bila semua bangunan yang berada di kawasan alun-alun tingginya tidak boleh lebih dari tiga lantai. “Lah ini kok sampai dua belas lantai,” kata Indra.
Menurut Pakar Tata Ruang Kota Eyang Nardi yang sudah lama mengamati perkembangan kota Purwokerto berpendapat bila pembangunan Rita Supermall menyalahi aturan. 

Ia mengatakan bila pemerintah tidak menjalankan amanat yang tercantum dalam perda nomor 6. Menurutnya pemerintah saat ini lebih bersikap menganulir perda yang telah ada. Hal itu dibuktikan dari keluarnya peraturan bupati banyumas yang mengijinkan berdirinya bangunan yang lebih tinggi dari aturan dalam perda. “Terus dibuat peraturan bupati untuk mengatur ketinggiannya, kan itu ngga bener,” katanya.

Ketoprak Sanggar Mandala

Di ruang tamu rumahnya yang terletak di Jalan HR.Boenyamin beberapa waktu yang lalu Eyang Nardi juga mengatakan, selain Rita Supermall pembangunan di Purwokerto tidak ada rencana dan evaluasi yang matang. Semuanya terkesan asal-asalan. Ia mencontohkan pada pembahasan naskah akademik dalam setiap penggodokan peraturan daerah. Lampiran naskah akademik yang ada menurutnya belum bisa digunakan sebagai acuan yang matang. “Banyak yang tidak tertulis dalam naskah akademik, seperti sektor formal dan informal,” kata Pria berusia 71 tahun ini. 


Idealnya pembangunan sebuah kota yang baik menurut Eyang Nardi harus memperhatikan sektor formal dan informal. Sektor formal yakni bangunan formal seperti perkantoran, gor, pusat perbelanjaan. Sedangkan pedagang kaki lima, warung tenda, dan pedagang asongan masuk kedalam sektor informal. “Di Indonesia model kotanya twin land, karena masyarakat kita memang kondisinya seperti itu. Dan antara sektor formal-informal memang berdampingan,” kata Eyang Nardi.


Menurut Eyang Nardi pembangunan Purwokerto saat ini harus lebih serius. Ditambah lagi tentang wacana pemerintah yang menjadikan Purwokerto sebagai pusat kegiatan nasional. Model pembangunan yang salah dapat membuat Purwokerto menjadi kota yang tidak nyaman. “Jangan terpaku pada pembangunan hotel dan pusat perbelanjaan saja, pembangunan jalan dan serta pelindungan cagar budaya juga penting,” katanya.

Sudah Terlalu Banyak Toko Modern dan Hotel
Nadia Nurfadma, mengatakan Purwokerto dalam benaknya yakni kota yang nyaman, tenang, dan murah. “Tidak ada kota yang seperti ini,” kata perempuan berusia 26 tahun ini saat dimintai pendapatnya tentang Purwokerto. Melihat suasana dan kondisinya kini, Purwokerto sebagai kota yang dikenangnya tak perlu memperbanyak mall atau pun hotel. “Hotel dan mall itu kan buat pendatang, orang asli sini ya sebenernya tidak terlalu butuh,” katanya.

papan iklan di Jl. HR. Bunyamin
Mengenai hotel, Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Eko Yunianto, dalam wawancara dengan Cahunsoed.com di tempat kerjanya, berujar bila Purwokerto sudah mempunyai hotel yang banyak. Munculnya wacana pembangunan hotel-hotel baru di Purwokerto akan menambah ruwet masalah saja. “Tidak perlu manambah hotel lagi. Kalo hotelnya banyak akibatnya penjualan kamar jadi dipermainkan, biarkan hotel-hotel yang sudah ada di manage dengan baik,” kata pria asli Banyumas ini.

Sementara itu, pendapat lain dikatakan oleh Makinu Amin saat ditemui oleh Cahunsoed.com di angkringan stasiun timur. Menurut mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Wijayakusuma ini, pembangunan semacam itu wajar saja terjadi di kota yang sedang berkembang. Menurutnya dengan hadirnya pusat perbelanjaan di Purwokerto dapat membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

“Menurut saya mall, café, dan hotel memang perlu di kota yang sedang berkembang seperti Purwokerto”, kata Amin. Namun Pria asli Karanglewas ini mewanti-wanti agar pembangunan di Purwokerto seimbang dengan budaya dan kearifan lokal yang telah ada. Menurutnya nilai tradisional dan modernitas harus terus berdampingan. Salah sedikit, kenyamanan yang ada di Purwokerto bisa hilang perlahan. “Bayangin kalau Purwokerto jadi macet, panas, dan semrawut. Kita semua bakal kena, bahkan pemerintah dan kaum pendatang juga kena,” katanya.

Senada dengan Amin. Bagi penjual makanan seperti Anton, ia mengaku kurang setuju dengan pembangunan mall yang dirasa terlalu menyudutkan pedagang kaki lima seperti dirinya. Namun apa daya Pemilik sebuah angkringan di Jalan Jenderal Soedirman Purwokerto ini hanya bisa mengikuti peraturan pemerintah, ia tak bisa berbuat banyak. Ia hanya bisa mengikuti peraturan pemerintah. 

angkringan depan FISIP Unsoed
“Takutnya ya kaya kejadian waktu PKL Jensoed itu mas,” kata bapak dua anak ini. Anton pun bercerita pengalamannya yang sudah bertahun-tahun berjualan angkringan di depan toko alat eletronik. Pelanggannya pun berasal dari berbagai latar belakang ada yang muda dan ada yang tua, ada yang datang berdua dan ada yang berkeluarga. Angkringan yang buka setelah azan magrib ini tak pernah sepi dari pelanggan. Terbukti dari jejeran kendaraan roda dua dan roda empat yang tiap malam terparkir di depan gerobak angkringan itu. Di tempat lesehan, dari banyak ibu-ibu dan bapak-bapak yang membawa keluarganya datang ke angkringan ini. 

Terlihat seorang anak berusia kurang dari sepuluh tahun merengek kepada ibunya. Ia terus meminta agar dibelikan barang yang tadi mereka lihat di pusat perbelanjaan. Si ibu sepertinya tidak menghiraukan apa yang dikatakan oleh anaknya. Si ibu pura-pura tak mendengar meski terkadang menyuruh agar diam. Tak perlu waktu lama, si anak pun bosan lalu ia diam, benar-benar diam. Akhirnya ia bermain dengan gadget-nya

Si anak terus menundukan kepalanya menatap gadget berwarna putih miliknya. Bahkan saat pesanan makanan telah tiba, ia tak memalingkan wajahnya sedikit pun. Ia terus menatap gadget berwarna putih itu. Ayah dan kedua kakaknya hanya melihat saja, lalu makan. Sedangkan si ibu ia tidak menawarkan ataupun menyuapi si anak, ia lebih memilih diam dan langsung menyatap makanan. Entah apa penyebabnya. **

Selanjutnya Wawancara Khusus: Itu Cuma Asal-asalan

SHARE
Previous articleLIPUTAN KHUSUS
Next articleLIPUTAN KHUSUS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here