LIPUTAN KHUSUS

0
4

Sebelumnya Dari Redaksi


Ini Kotaku, Mana Kotamu

Oleh: Alexander Agus Santosa

Bahagia itu sederhana, di kota kami, bisa ditemukan di angkringan-angkringan pinggir jalan, warung-warung makan, meja-meja di emperan pasar, bahkan dapur-dapur banyak rumah (Pungky Prayitno, Tak Perlu Ke Mall Untuk Bahagia)

Perempuan itu masih duduk di pojokan café. Jemari kanannya berkali-kali memencet-mencet layar gadget. Sementara jemari yang lain terus mengaduk secangkir es coklat di atas mejanya, seirama dengan detak jarum jam yang terus berlalu. Sudah dua puluh menit Nia menunggu. Kedua orang temannya tak kunjung datang. “Iya nih mas, padahal kita janjian jam 4 sore, heee,” katanya saat dihampiri oleh Cahunsoed.com.



Nia Kurnia terus memantau situasi di sekitar, pandangan terpaku pada lalu lalang pengendaraan motor jalan raya, ia memeriksa pengendara roda dua itu satu-satu. Berkali-kali kepalanya celingukan memastikan situasi sekitar café yang ramai oleh remaja usia belasan. Dua bangku kosong yang berdiri persis dihadapannya membikin Nia sedikit grogi dan kurang pede. Untuk kesekian kalinya ia mengintip jam di ponselnya yang sudah menunjukan pukul empat lebih lima belas menit. Ia mencoba menangkan pikiran dengan menyeruput minuman seharga kurang dari sepuluh ribu itu, sambil melemparkan tatapan kosong ke empat orang siswa berseragam SMA yang sedang asyik mengobrol di meja seberang.

Hampir setiap hari Nia dan teman-temannya pergi keluar rumah buat sekedar nongkrong dan jalan-jalan, tempatnya pun beragam bisa kafe, kedai kopi, rumah makan, atau angkringan di pinggir jalan. Itu sudah menjadi semacam ritual sehari-hari kata Nia. “Maklumlah mas namanya anak muda heheee,” kata Nia sambil tertawa.

angkringan pinggir jalan

Kegiatan nongkrong ini dilakukan bukan karena ia anak orang kaya ataupun remaja yang gemar foya-foya. Semuanya mengalir begitu saja. Suasana kota yang nyaman dan tenang membikin nia betah berlama-lama duduk di café-café sekitar Purwokerto. Untuk sekedar berbincang dan mengisi waktu luang menurut Nia, café adalah pilihan yang pas. “Disini tempatnya enak terus murah-murah lagi. Di Purwokerto itu gak perlu jadi orang kaya dulu buat makan di café dan tempat orang kaya. Semua orang bisa, suasananya juga disini khas banget. itu gak pernah aku temui di kota lain,” kata mantan mahasiswi salah satu sekolah tinggi kesehatan di Purwokerto ini.


Pengalaman semacam ini pun turut dirasakan oleh Nadia Nurfadma. Gadis yang setiap harinya mesti bolak-balik keliling kota karena tuntutan pekerjaan ini, selalu menyempatkan waktunya setiap minggu untuk sekedar mampir ke Purwokerto. Seperti remaja pada umumnya, gadis berkerudung ini pun sering nongkrong bersama kerabatnya baik café ataupun angkringan. “Purwokerto itu tenang, ngangenin, suasananya sama orang-orangnya juga selow, gak pernah bosen main ke Purwokerto,” kata gadis berusia 26 tahun ini.

Selain kecintaannya pada mendoan Purwokerto yang citarasanya tidak ditemukan di daerah lain. Nadia pun jatuh cinta pada bahasa banyumasan, gadis berkulit putih ini mengaku tak pernah risih berbicara bahasa banyumas secara blak-blakan di depan teman-temennya. Budaya blak-blakan atau orang mengetahuinya dengan istilah cablaka, dimata Nadia mengandung keistimewaan tersendiri. “Mau pendatang, mau orang asli banyumas. Kalau udah ngumpul ya ngomonge bebas. Dalam arti guyonan yang nggak kaku, tertawa yang lepas tapi setelah itu nggak menyimpan dendam,” ujar karyawati salah satu bank swasta ini.

Prof. Sugeng Priyadi

Mengenai kebiasaan makan diluar rumah, Dosen Sejarah Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Profesor Sugeng Priyadi, berpendapat bila sejak zaman dahulu kala masyarakat Banyumas memang sudah terbiasa kumpul-kumpul dengan orang-orang terdekatnya, terutama saat makan. “Karena Banyumas masuk dalam wilayah mancanegara yang jauh dari keraton, kekerabatan dan solidaritas antar warga disini lebih kuat, mereka terbiasa bersama-sama,” kata Sugeng.


Istilah dopokan pun muncul saat mereka sudah berkumpul dan saling berbicara satu sama lain. “Uniknya itu ada sifat cablaka, mereka berbicara apa adanya saat makan bersama. Lahirlah budaya dopokan,” kata Sugeng.


Ia juga menjelaskan pengaruh geografis terhadap kebiasaan masyarakat Banyumas untuk makan di luar rumah. Kondisi di kaki gunung dan curah hujan yang tinggi berpengaruh pada kebiasaan masyarakat Banyumas main ke luar rumah. Malam hingga pagi hari masyarakat Banyumas lebih memilih diam di rumah karena cuaca di Banyumas yang sedang dingin-dinginnya. Siang hari turun hujan mereka tidak bisa keluar rumah. Satu-satunya waktu yang tersisa hanya pagi hari, yang mereka gunakan untuk beraktivitas seperti ke sawah dan pasar. “Akhirnya mereka lebih banyak di rumah, sekalipun keluar hanya sebentar dan tidak jauh dari rumah,” katanya. Makan diluar banyak dilakukan hanya sebentar saja yakni pada sore sampai menjelang malam hari, tidak sampai larut malam.

“Jadi kalau siang itu mereka diam di rumah, kalau malam keluar sebentar lalu pulang lagi,” katanya. Sugeng juga mengatakan bila esensinya masyarakat Banyumas tidak mengenal budaya kuliner seperti Jogja atau Solo, yang setiap hari pergi keluar rumah mencicipi makanan. Tujuan utama pergi ke tempat makan yakni berkumpul dengan teman-teman, makanan digunakan sebagai pelengkap saja. “Jadi sebenarnya mereka ya tidak mencari makanan ataupun tempat. Yang mereka cari adalah teman,” kata Sugeng.

Sanggar Mandala

Beberapa kesenian banyumas seperti lengger, cowongan, dan begalan juga menjadi pengetahuan dan sarana hiburan tersendiri bagi Nadia. Menurutnya budaya tersebut adalah kekayaan bangsa yang mesti dilestarikan. “Kalau ada event-event seperti itu pasti rame, bukti kalau masyarakat sebenernya masih peduli dengan budayanya,” kata Nadia. Meski beberapa orang masih jarang melestarikan budaya, ia yakin masyarakat Banyumas akan sadar dengan kebutuhan yang sebenarnya. “Nanti lama-lama orang akan sadar bila mereka sebenernya membutuhkan itu, contohnya begalan. Sekarang acara nikah disini jadi kurang pas tanpa begalan,” kata Nadia.


Angga Giri Yoliandika, salah satu mahasiswa Fakultas Ekonomi Unsoed juga mengutarakan pendapatnya perihal frasa betah tinggal di Purwokerto. Remaja berusia 19 tahun ini menuturkan dirinya jarang nongkrong di café-café Purwokerto. Ia lebih suka berkunjung ke tempat-tempat wisata di sekitaran Banyumas. Sebut saja Curug Gede, Baturraden, dan Telaga Sunyi. Sudah berkali-kali ia mondar-mandir di tempat itu. “Ya buat refresing paling bagus di tempat wisata, di Banyumas alamnya bagus-bagus,” kata mahasiswa asal Cilacap ini.

Berdasarkan pengamatan Cahunsoed.com, banyak café-café dan tempat makan bertebaran di setiap sudut kota Purwokerto. Data dari Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Cabang Purwokerto, menyebutkan sedikitnya terdapat 150-an café tersebar di Puwokerto. Harganya pun beragam dari yang paling murah sampai yang paling mahal. Beberapa café buka hingga dini hari. Pengunjung café sendiri masih didominasi oleh remaja usia 16-25 tahun. Selain café dan rumah makan, sektor pariwasita banyak diminati oleh masyarakat, baik wisatawan lokal maupun nonlokal. Dalam data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Banyumas, pada tahun 2013 tercatat ada 14 tempat obyek wisata tersebar di Babupaten Banyumas, yang setiap harinya dikunjungi oleh 638 orang.


Sebelum Nasi Menjadi Bubur
Kondisi Perkembangan Purwokerto ini terhitung tercepat se-Indonesia. Pada Survei Perubahan Biaya Hidup Tertinggi yang dilakukan 5 tahun sekali oleh BPS pada 2012 lalu. Purwokerto menduduki peringkat pertama dalam Perubahan Biaya Hidup Tertinggi di Indonesia. Lima tahun sebelumnya pada tahun 2007 Nilai Konsumsi Rumah Tangga di Purwokerto baru berkisar Rp2.082.585/bulan, di tahun 2012 meningkat tajam menjadi sebesar Rp4.089.009/bulan dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 96,35%. Mengalahkan Banjarmasin, Semarang dan Bandung yang menempati posisi 2,4, dan 7.

Dua Orang anak melakukan sholat Asar di Depan Kantor
Karisidenan Banyumas

Gairah ekonomi yang subur dan potensi konsumen yang besar mengundang banyak investor untuk berlomba-lomba menanamkan modalnya di Purwokerto. Tercatat setiap tahunnya lebih dari seribu surat ijin usaha diterbitkan oleh pemerintah dan selama lima tahun berturut-turut ijin usaha perdagangan selalu menempati posisi tertinggi dibanding ijin usaha lainnya. Di tahun 2013 saja, ada 554 izin usaha perdagangan, 16 ijin usaha rumah makan, dan 655 ijin usaha reklame yang diterbitkan oleh pemerintah daerah kabupaten banyumas.

Pengembangan sektor wacana ekonomi dalam pemekaran kota Purwokerto tahun 2025 dalam Rancangan Pembangunan Daerah Jangka Panjang (RPJP) Kabupaten Banyumas. Semakin memantapkan pertumbuhan investor dari luar yang menanamkan modalnya di Purwokerto. Dosen Teknik Sipil Universitas Wijayakusuma, Indrayana saat wawancara dengan Cahunsoed.com dua minggu lalu, mengatakan pemerintah telah salah dalam hal perencanaan dan pengembangan Kota Purwokerto. Hal itu dilihat dari kebijakan soal tata ruang kota yang mengesampingkan budaya Banyumas. Ia mencontohkan pembangunan Rita Mall, yang syarat akan penyelahgunaan wewenang untuk mengakali perda. “Rita Mall itu jelas menghilangkan nilai sakral dan nilai budaya dari pendopo. Nilai dari landmark Purwokerto bisa hilang,” kata Indrayana. 


Dua orang anak SD sedang menunggu kedua orang tuanya, di samping

kelasnya yang beraristektur belanda. Di Banyumas, beberapa sekolah 
menggunakan bekas gedung kolonial sebagai bangunan sekolah mereka.

Pendapat serupa diutarakan oleh Sunardi, pakar tata ruang kota, menurutnya perencanaan pembangunan Purwokerto harus disiapkan secara matang. Mengingat Purwokerto sudah ditetapkan menjadi pusat kegiatan nasional. Sektor formal dan informal posisinya harus seimbang. Tidak hanya memenangkan kelompok pemilik modal saja, keduanya harus seimbang. Bila tidak, Purwokerto yang selama ini kita kenal dengan kenyamanan dan ketenangannya akan hilang. “Jelas, ketakutannya Purwokerto menjadi kota yang tidak ramah, menjadi macet, dan tidak lagi bersahabat,” kata pria yang kerap disapa Eyang Nardi ini.


Menanggapi wacana pembangunan di Purwokerto, Anton, pemilik sebuah Angkringan di Jalan Jenderal Soedirman Purwokerto, mengatakan bila ia tidak bisa berbuat banyak, ia hanya bisa mengikuti peraturan pemerintah. “Saya disini kan, buat warga Purwokerto juga, mereka senang dan membutuhkan saya disini,” kata bapak dua anak ini. Saat ditanyai soal tanggapan pembangunan mall di tempatnya berjualan, ia mengaku pasrah bila wacana itu benar terjadi, Anton hanya berharap supaya pemerintah agak sedikit memikirkan nasibnya pasca pembangunan itu dilakukan. “Mau gimana lagi ya mas, Purwokerto sekarang udah beda. Kalau nanti tidak ada tempat ya sulit mas, dimana-mana nanti dilarang. Bisa-bisa angkringan saya tidak jualan lagi,” katanya tersenyum kecil tanda mengakhiri wawancara kepada Cahunsoed.com, sambil menghampiri seorang pelanggan yang sejak tadi menunggu.

Meski ia telah menunggu sendirian dua puluh menit yang lalu tak tampak sedikitpun sikap gusar dan grogi yang terlihat di wajahnya. Dengan caranya sendiri ia terus menikmati lalu lalang lalu lintas kendaraan malam, cahaya sorotan lampu jalanan dan sayup-sayup suara orang di atas lesehan. Dari wajahnya terlihat jelas gambaran kecil. Sebuah frase yang biasa kita dengar. Bahagia itu sederhana. **

SHARE
Previous articleLIPUTAN KHUSUS
Next articleLIPUTAN KHUSUS: Kota Mendoan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here