Kemarau Panjang, Sampah Menumpuk Di Sungai

0
4
Purwokerto – Cahunsoed.com, Rabu (16/9), Sungai Banjaran yang terletak di Kecamatan Purwokerto Barat, Kabupaten Banyumas dipenuhi sampah. Sampah tersebut terdiri dari berbagai macam jenis, seperti sampah rumah tangga, sampah dari pedagang, hingga limbah industri. Ponary salah satu warga RW V Kelurahan Kedungwuluh, yang tinggal di pinggiran Sungai Banjaran mengatakan, masyarakat setempat sangat terganggu dengan polusi yang dihasilkan dari tumpukan sampah tersebut. Selain bau yang menyengat, tumpukan sampah di sungai menjadi sarang nyamuk yang menyerang pemukiman warga. “Disini nyamuknya banyak sekali, kalau baunya sih wahh sudah gak karuan,” ujar Pria yang berusia 70 tahun ini, pada Senin (14/9).

Musim kemarau panjang yang lama tak turun hujan memperparah kondisi lingkungan di Sungai Banjaran. Terlebih, persis di bawah jembatan penghubung Jalur Purwokerto – Ajibarang ini terdapat tanggul besar, sehingga aliran sampah banyak yang menumpuk di permukaan sungai. “Ya saya sih, kesini sambil nyari botol bekas untuk dijual sekalian bersih-bersih sungai supaya tidak terlalu padat sampahnya,” kata pria yang kesehariannya bekerja sebagai pemulung dan pengayuh becak ini.

Ponari juga mengatakan, sampai hari ini belum ada penanganan serius dari pihak kelurahan maupun pemerintah daerah. Upaya penanggulan yang dilakukan hanya sebatas pengerukan sampah pada beberapa bulan yang lalu sebelum datangnya musim kemarau panjang. “Sekarang kan ya lebih parah sampahnya lebih banyak karena airnya sedikit jadi numpuk semua,” katanya.

Akhmad Setiawan, Kepala Bidang Sungai dan Air Baku Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (SDABM) Kabupaten Banyumas, mengatakan kondisi tersebut terjadi lantaran pemahaman masyarakat sekitar mengenai kebersihan sungai masih kurang. Oleh sebab itu, menurutnya perlu ada upaya peningkatan kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan sungai. Ia mengaku pihaknya pernah beberapa kali melakukan upaya penangulangan kebersihan sungai. Seperti penggunaan jaring sampah di Sungai Kranji untuk mempermudah pengambilan sampah di sungai. Namun, sayangnya baru beberapa hari dipasang jaring tersebut sudah hilang.

Maka dari itu pihaknya kini sedang mencoba untuk mengajak masyarakat agar terlibat secara langsung dalam menjaga serta menanggulangi kebersihan sungai dan lingkungannya. 

Tujuannya untuk menambah kesadaran masyarakat sehingga masyarakatlah yang nantinya bisa menjaga lingkungannya sendiri. Ahmad juga menuturkan, bila pihaknya kini sedang menyusun rencana kerjasama dengan Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak untuk menggagas komunitas warga atau lembaga swadaya masyarakat yang peduli terhadap kebersihan sungai dan lingkungan sekitar. 

Rencananya setelah terbentuk, masyarakatlah yang menjadi anggota dan penggerak lembaga tersebut, bukan lagi pemerintah. “Sebelumnya kami memiliki forum peduli linkungan tetapi masih melibatkan pemerintah,” katanya.

Ponari, berharap agar pemerintah serius untuk mengatasi masalah lingkungan ini. Selain sudah terjadi selama bertahun-tahun, warga kerap kali terjangkit penyakit akibat dari pencemaran sungai. “Jadi, biasanya ya cuma bersihin sekali terus hilang. Harusnya kan dijaga terus sampai benar-benar ketemu masalah sebenarnya, karena oleh warga air di sungai ini setiap hari dipakai untuk mandi dan mencuci,” kata kakek yang sudah memiliki tiga cucu ini. (ALX)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here