Dosen PJKR Diberi Sanksi Percobaan Satu Semester

1
4
Foto: PJKR Unsoed (CAHUNSOEDCOM/Fita Nofiana)
Purwokerto, Cahunsoed.com – Selasa (20/9), Dosen Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi (PJKR), Fikes Unsoed, Bayu Suko Wahono yang dilaporkan mahasiswa atas tuduhan kekerasan telah dipanggil oleh pihak rektorat pada (1/9) lalu. Bayu yang ditemui di ruangannya mengklaim bahwa persoalan tersebut telah selesai. “Saya sudah klarifikasi ke pimpinan, sudah ditindaklanjuti,” katanya.
Namun Bayu enggan menjelaskan lebih rinci mengenai hasil dari pemanggilan yang dilakukan pihak rektorat bersama pimpinan fakultas tersebut. Wakil Dekan III, Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan Unsoed, yang dikonfirmasi melalui pesan singkat menganggap persoalan ini sudah selesai, “Wong sudah selesai, apanya yang mau ditanyain?” kata Endo Darjito.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik Mas Yedi Sumaryadi mengatakan, dosen yang bersangkutan terbukti melanggar beberapa peraturan akademik. Seperti memajukan 30 menit jam masuk perkuliahan, membuat peraturan sendiri di luar kesepakatan kontrak pembelajaran, serta penyalahgunaan wewenang dengan memberi hukuman fisik pada mahasiswa.
Pihak rektorat bersama pimpinan fakultas telah memanggil dosen bersangkutan untuk mempertanggungjawabkan surat tuntutan mahasiswa PJKR. Dosen tersebut diberikan sanksi berupa percobaan selama satu semester. “Dosen tersebut mengakui kekeliruannya, sudah kami tegur dan saat ini sedang masa percobaan, kalau terbukti melanggar lagi akan diberi sanksi yang lebih berat,” kata Mas Yedi.
Mas Yedi juga menambahkan, dosen lain yang melimpahkan tanggung jawabnya, harus ikut bertanggung jawab. “Untuk sementara, dosen yang bersangkutan tidak mengajar lagi. Sifatnya kalo mengajar hanya membantu,” tambahnya.
Pelanggaran yang dilakukan Dosen Bayu Suko nyatanya tidak hanya terjadi saat di perkuliahan. Namun hukuman di luar jam perkuliahan juga tetap dilakukan pada mahasiswa PJKR.
Salah satu mahasiswa PJKR yang pernah mendapat hukuman skotjump 20 kali hanya karena memakai sandal saat bermain tenis meja di kampus, padahal jam perkuliahan telah selesai. “Saya ke kampus lagi sore, jam perkuliahan udah selesai tapi tetep dihukum skotjump dan dimarahi,” kata mahasiswa yang enggan disebutkan namanya.
Kekerasaan Tidak Hanya Dilakukan Oleh Bayu
Meski awalnya mahasiswa hanya menuntut Dosen Bayu Suko Wahono, namun dosen lain juga kerap memberikan hukuman dan bersikap mengintimidasi mahasiswa saat perkuliahan. Tiga orang mahasiswa pernah ditampar Dosen yang bernama Kusnandar saat di kelas.
Penyebabnya, ketiga mahasiswa tersebut terlihat sedang merokok oleh Kusnandar di GOR Satria saat di luar perkuliahan. “Sambil mengucapkan dasar calon guru asu!, terus kami ditampar di depan mahasiswa lain,” katanya saat menceritakan perlakuan buruk dosennya.
Kata-kata kasar kerap diucapkan dosen Kusnandar, terutama ketika mahasiswa tidak melakukan dengan benar sesuai yang diperintahkan. “Paling sering dosennya bilang brengsek mba,” kata salah seorang mahasiswa lainnya.
Mahasiswa tetap menuntut agar diadakan audiensi yang mempertemukan antara dosen dan mahasiswa ke pihak rekorat. Bagi mereka, pembinaan saja tidak cukup untuk membuat dosen menjadi jera.
“Kami inginnya dosen dipecat, karena ini kejadian udah yang kedua kali, dua angkatan berturut-turut dosen melakukan tindakan melanggar akademik, ngga cukup kalo hukumannya cuma pembinaan,” kata seorang mahasiswa lainnya. (MG-Fauzi Akmal Dhiatama/Khaerunisah)

Ed: Triana Widyawati

1 COMMENT

  1. Mahasiswa sekarang cemen2. Menurut saya wajar di prodil olahrga diberi hukuman fisik squat rool depan push up dll. ItUn juga untuk mendidik mahsiswanya itu sendri. Untuk mental dan kedisplinan mreka. Hadeh… Jaman saya kuliah hal sprti itu wajar. Krn saya sadar kalo itu semua untu membentuk karakter kita agar siap menghadapi tekanan dunia kerja stlah lulus nantinya. Hadehh mahasiswane mellow2….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here