10 Rekomendasi Film Inspiratif tentang Lika-Liku Kehidupan

0
585

Kehidupan memang sesuatu yang kompleks serta penuh kejutan. Bagi sebagian orang, hidup adalah tentang bagaimana caranya bertahan hidup, mencapai kesuksesan, mempertahankan prinsip, dan sebagainya. Sedangkan bagi sebagian orang yang lain, hidup mungkin merupakan sesuatu yang berbeda. Namun, secara umum, kehidupan tiap tiap manusia tidak terlepas dari perjuangan serta kekuatan untuk bangkit dan terus menapaki fase-fase kehidupan.

Dalam situasi pandemi seperti sekarang ini, kita dipaksa untuk melakukan berbagai aktivitas dari rumah. Tentu saja, hal ini membatasi kita untuk bisa saling berinteraksi secara langsung. Padahal, bertemu dengan banyak orang, bertukar pikiran, serta berdiskusi dengan mereka merupakan salah satu asupan yang baik untuk memperluas pemahanan akan kehidupan.

Tapi, tidak usah khawatir, masih ada cara lain yang bisa kita lakukan. Salah satunya dengan menonton film. Yap! Ada banyak film yang mengangkat tema seputar kehidupan. Kita bisa menjelajahi pemikiran tokoh serta merasakan lika liku kehidupannya yang inspiratif.

1. Life of Pi (2012)

Life of Pi (IMDb)

“Above all… it is important not to lose hope…”

Diangkat dari novel karya Yann Martel, film ini menceritakan petualangan Pi Patel, seorang laki – laki religius penganut tiga agama, bersama temannya, Richard Parker yang buas. Mereka berdua mengarungi lautan yang ganas demi bertahan hidup.

Keluarga Pi merupakan pemilik kebun binatang. Hidup miskin dan ancaman kebangkrutan yang terus menghantui keluarga Pi di India, membuat mereka semakin yakin untuk berhijrah ke Kanada. Dengan layanan transportasi berupa kapal barang, mereka membawa puluhan hewan penghuni kebun binatang dengan harapan bisa dijual. Namun, rencana tidak berjalan mulus ketika kapal yang mereka naiki karam akibat terjangan badai. Kenyataan pahit harus dihadapi oleh Pi yang berusaha bertahan hidup dengan menggunakan sekoci bersama zebra, orangutan, hyena, dan tentu saja Richard Parker. Terombang-ambing di tengah Samudra Pasifik, inilah awal petualangan Pi yang tidak terlupakan.

Pi berusaha mengajarkan kepada kita tentang bagaimana harusnya kehidupan dipahami. Bahkan, di tengah-tengah situasi yang serba mustahil itu, spiritualitasnya semakin terbentuk beriringan dengan beragam keajaiban menakjubkan yang ditemuinya. Film ini menggambarkan segalanya dengan indah, bahkan melebihi karya aslinya.

2. Into the Wild (2007)

Into the Wild (IMP Award)

“I’ll paraphrase Thoreau here, Rather than love, than money, than faith, than fame, than fairness, give me truth..”

Apa kalian tau tentang bus 142 atau yang biasa disebut magic bus? Yap! Magic bus yang berada di Pedalaman Alaska itu menjadi saksi bisu petualangan ekstrem seorang pemuda idealis.

Berdasarkan kisah nyata yang dibukukan oleh Jon Krakauer tentang Christopher McCandless, seorang pemuda berprestasi dari keluarga kaya yang memilih hidup bebas di alam liar. Memulai petualangan amatirl pada 1990, McCandless mengabaikan semua bahaya demi menyatu pada alam sepenuhnya. Ia bahkan mengganti namanya menjadi Alexander Supertramp.

Selama 2 jam 28 menit, McCandless mengajak kita untuk menyelami pemikirannya yang tidak terlepas dari pengaruh karya – karya Leo Tolstoy dan Henry David Thoreau, penulis favoritnya. Dirinya adalah gambaran tentang seorang pemuda yang konsisten mempertahankan idealismenya. Memilih meninggalkan hingar-bingar kehidupan masyarakat sosial yang menurutnya penuh kepalsuan, dalam rangka menemukan makna kehidupan yang sesungguhnya.

Menariknya, film ini menggunakan narasi – narasi yang dikutip langsung dari buku perjalanan McCandless. Bahkan, sang penulis, Jon Krakauer, melakukan riset mendalam dengan menjadi Christopher McCandless “KW” demi mendapat data-data yang lebih detail. Bagi kalian yang suka berpetualang, film Into The Wild akan memberi kalian banyak inspirasi langsung dari sang petualang sejati, Alexander Supertramp.

3. Lion (2006)

Lion (Wikipedia)

“Have a child, couldn’t guarantee it will make anything better. But to take a child that’s suffering like you boys were. Give you a chance in the world. That’s something.”

[WARNING! Film ini mengandung bawang!] Menceritakan tentang Saroo, seorang anak berusia 5 tahun yang hidup di lingkungan kumuh India bersama ibu, kakak laki – laki, dan adik perempuan. Tidak pernah ia bayangkan, bahwa di suatu malam, dirinya akan berpisah dengan keluarganya.

Setelah beberapa saat tersesat dan luntang-lantung seorang diri, ia dipertemukan dengan pasangan berhati mulia, Sue dan John Brierley, yang mengadopsinya dan membawanya ke Australia. Cinta dan kasih sayang yang diberikan pasangan Brierley membuat Saroo dengan cepat beradaptasi dan lupa pada kehidupan sebelumnya. Hingga pada suatu moment, setelah 25 tahun berlalu, Saroo menyadari bahwa ia adalah anak yang hilang. Dengan mengandalkan ingatan masa kecilnya dan tentu saja teknologi Google Earth, ia berusaha menemukan keluarganya.

Film ini mengajarkan tentang bagaimana relasi-relasi yang harus tercipta dalam keluarga. Motivasi yang paling mendalam ditunjukkan oleh pasangan Brierley melalui prinsip yang mereka pegang teguh. Tentang pilihan mereka untuk tidak mempunyai anak dan lebih memilih untuk mengambil anak-anak terlantar dan memberinya kesempatan hidup yang lebih baik di dunia. Jejak Sue sebagai seorang ibu yang penyayang untuk anak adopsinya juga bisa menjadi teladan bagi siapa saja. Lagi – lagi berdasarkan pada kisah nyata, film ini berpotensi menyebabkan banjir, banjir air mata.

4. The Pursuit of Happyness (2006)

The Pursuit of Happyness (Columbia Picture)

“Don’t ever let somebody tell you.. You can’t do something. Not even me.”

Film ini terinspirasi dari perjalanan hidup nyata seorang Chris Gardner. Diangkat dari buku yang ditulis Gardner dengan judul yang sama, film ini mengisahkan fase-fase berharga dalam hidupnya hingga akhirnya berhasil mendirikan firma broker saham Gardner Rich & Co.

Hidup dalam kesulitan ekonomi membuat istrinya pergi meninggalkannya, menyisakan dirinya bersama anak satu – satunya, Christopher Gardner Jr. Keadaan tidak berubah malah menjadi semakin menyedihkan, ketika Gardner bersama anaknya harus hidup luntang-lantung dan terpaksa tidur dimana saja. Tunawisma dan tidak memiliki penghasilan, fase ini betul-betul membuat kita berpikir bahwa Gardner tidak akan memiliki peluang, sangat tidak mungkin.

Film ini sukses menggetarkan hati siapa saja yang menontonnya. Bahkan, kisah Gardner mampu membuat penonton ikut tenggelam dalam kehidupan yang tidak kenal belas kasihan. Gardner tidak pernah kehilangan harapan, ia berusaha memberi tahu kita bahwa hidup itu tentang cara bertahan. From zero to hero, kalimat ini menjadi begitu melekat dalam diri Gardner. Buat kalian yang merasa sedang berada di titik terendah dalam kehidupan, jangan pernah berhenti. Hidup terdiri dari fase – fase yang akan selalu menanti untuk dijalani.

5. The Peanut Butter Falcon (2019)

The Peanut Butter Falcon (IMDb)

“Friends are the family you choose..”

Film ini menceritakan petualangan hebat Zak, seorang pria down syndrome yang melarikan diri dari panti asuhan demi mengejar mimpinya menjadi pegulat profesional. Di tengah-tengah pelariannya, Zak bertemu dengan pria yang sedang dirundung masalah, Tyler. Merasa saling terhubung, mereka berdua kemudian saling berbagi cerita dan melanjutkan petualangan menuju sekolah gulat profesional milik The Salt Water Redneck, idola Zak.

Berfokus pada dua tokoh utama, Zak dan Tyler, film ini menunjukkan perkembangan hubungan persahabatan keduanya secara perlahan. Film ini memiliki alur yang sederhana tanpa dramatisasi yang berlebihan, walaupun menempatkan penderita down syndrome di urutan pertama. Zak dan Tyler berusaha berbicara kepada penonton bahwa memiliki mimpi tidak harus menyesuaikan dengan keadaan, justru keadaan lah yang harus menyesuaikan dengan mimpi kita.

6. Chhichhore (2019)

Chhichhore (Twitter / @NGEMovies)

“Kita seringkali sangat bingung memikirkan menang, kalah, sukses, gagal. Sehingga kita lupa menjalani hidup. Hal terpenting dalam hidup adalah hidup itu sendiri.”

Film ini bercerita tentang seorang anak bernama Raghav yang selalu menganggap dirinya adalah seorang pecundang. Bahkan, ia sampai sempat mencoba bunuh diri. Alih-alih menasihati sang anak, Anni dan Maya malah mengajak Raghav untuk flashback ke masa lalu ketika mereka masih berada di bangku kuliah. Dimulai dari sang ayah, Anni, yang harus menerima kenyataan untuk tinggal di asrama H4 yang hampir tidak layak huni. Anni kemudian bergabung bersama penghuni H4 lainnya dan membuat dirinya selalu berada dalam situasi konyol. Begitu jeleknya asrama H4, membuat para penghuninya sering diejek, terutama oleh penghuni asrama H3 yang fasilitasnya serba mewah. Dijuluki sebagai sarang pecundang, membuat Anni dan kawan-kawan asramanya mendidih. Mereka pun kemudian berusaha membuktikan diri dalam ajang Kejuaraan Umum antar asrama, yang selama ini tak pernah dimenangkan oleh H4.

Film bergenre komedi drama ini layak untuk ditonton, karena pembawaan filmnya yang ringan dan menarik. Para tokohnya memiliki karakteristik tersendiri, dan alur yang disajikan benar-benar menggambarkan kehidupan kampus dan persahabatan. Pesan moral yang diangkat dibalik cerita ini membuat penonton sadar, bahwa sebuah kegagalan bukanlah akhir dari segalanya.

7. The Secret Life of Walter Mitty (2013)

The Secret Life of Walter Mitty (IMDb)

“To see the world, things dangerous to come to, to see behind walls, to draw closer, to find each other and to feel. That is the purpose of life.”

Mediocare, itulah kesan pertama yang ditampilkan oleh tokoh utama di film ini. Walter Mitty merasa bahwa kehidupannya membosankan, ia sering berfantasi bahwa situasi yang ada dihadapannya adalah sesuai dengan ekspetasinya yaitu menjadi hebat. Dunianya berubah saat ia jatuh cinta dengan rekan kerjanya yang bernama Cheryl.  Dengan berbagai cara Walter Mitty pun mencoba untuk mendekati Cheryl.

Posisinya sebagai expert (ahli pemroses film klise) di majalah LIFE, membuatnya harus bertanggung jawab terhadap pembuatan cover majalah. Namun, masalah terjadi ketika foto klise ke-25 hasil jepretan fotografer Sean O’Connell menghilang. Walter Mitty pun akhirnya berusaha menemukan keberadaan Sean O’Connell untuk mengetahui dimana foto klise ke-25 itu. Teka-teki dan perjalanan panjang yang memaksanya benar-benar merasakan dunia yang diimpikannya.

Film bergenre komedi petualangan ini menyuguhkan alur cerita yang menarik dan tidak begitu rumit. Ditambah dengan sinematografinya yang memuaskan mata membuat penonton ikut menyelam ke dalam petualangan Walter Mitty. Dibalik setiap peristiwa yang terjadi dalam film ini, terdapat pesan bahwa kehidupan yang sebenarnya adalah ketika manusia tahu bahwa dirinya adalah spesial dan dengan itu ia dapat menjalankan kehidupan dengan baik.

8. House of Hummingbird (2018)

House of Hummingbird (IMDb)

“Butuh waktu untuk belajar mencintai diri sendiri. Ketika aku tidak mencintai diriku aku mencoba memahami diriku sendiri, itulah caranya.”

Pada tahun 1994, terjadi kecelakaan runtuhnya jembatan Seongsu di Seol. Tragedi tersebut kemudian digambarkan kembali dalam film House of Hummingbird dengan alur yang baik. Runtuhnya jembatan ini kemudian menjadi salah satu hal penting dari peristiwa di film ini.

Eun Hee adalah seorang anak berusia 14 tahun yang memiliki kehidupan membosankan. Memiliki keluarga yang kurang harmonis, kurang memiliki motivasi untuk bersekolah, konflik yang terjadi dalam pertemanan serta keadaan ekonomi yang sulit membuat Eun Hee tidak mencintai hidupnya. Namun, hal tersebut berubah ketika ia bertemu dengan Kim Youngji, guru pengganti di les bahasa Cina yang diikutinya. Eun Hee menganggap Kim Youngji adalah satu-satunya orang yang bisa memahaminya. Namun, pada suatu hari, pada moment yang tidak pernah Eun Hee bayangkan,  hubungan mereka berakhir tragis.

Walaupun film ini bergenre drama, namun alur dan konflik yang disajikan tidak mendramatisir sehingga membuat penonton menikmati cerita dengan gaya yang sederhana. Film ini mengambil perspektif dari bagaimana seorang anak berusia 14 tahun melihat hidupnya. Eun Hee, dan juga kehidupannya memberitahu kita bahwa tiap hubungan begitu rentan terputus. Film garapan Kim Bora ini layak untuk ditonton karena pesan moral yang diangkat membuat penonton bersyukur dan mengerti bahwa hidup adalah proses menerima serta mencintai keadaan orang sekitar dan diri sendiri

9. Awakenings (1990)

Awakenings (Wikipedia – Reduce size of non-free image)

“The human spirit is more powerful than any drug, and that is what needs to be nourished: with work, play, friendship, family. These are the things that matter. This is what we’d forgotten, the simplest things.”

Film based on true story ini menceritakan kisah seorang dokter bernama dr. Malcolm Sayer yang melamar pekerjaan di sebuah rumah sakit kronis. Ini adalah pertama kalinya dr. Sayer menangani pasien secara langsung, sebelumnya karirnya fokus pada penelitian. Pasien-pasien di rumah sakit ini adalah pasien yang mengalami katatonia. Setelah melakukan berbagai penelitian dr. Sayer menemukan bahwa pasien dirumah sakit tersebut menderita ensefalitis letargika yang merebak pada 1917-1928.

Berbekal keyakinannya yang kuat sebagai peneliti dan dengan bantuan tenaga medis di rumah sakit tersebut, dr. Sayer memberanikan diri untuk melakukan uji coba obat L-Dopa terhadap salah satu pasien bernama Leonard Lowe. Leonard Lowe kemudian menjadi inspirasi bagi dr. Sayer untuk mengembangkan obat tersebut bagi pasien-pasien lainnya. Keajaiban datang kepada para pasien, mereka sadar dan menyadari bahwa mereka telah “tertidur” dalam waktu yang sangat lama.

Film ini diangkat dari buku non-fiksi karya Oliver Sacks.  Berbekal dari kisah nyata, film bergenre  drama ini layak untuk ditonton. Alur yang disajikan dengan kalem di film ini serta cerita yang menggambarkan bagaimana perjuangan seorang dokter untuk menemukan obat, seolah membawa kembali penonton untuk flashback ke zaman-zaman dimana penyebab penyakit belum banyak dimengerti dan obat-obat untuk mengatasinya adalah hal yang langka.  Film ini mengajarkan tentang perjuangan dan juga waktu. Waktu adalah hal yang terbatas, dan dalam waktu yang manusia miliki harusnya manusia dapat memanfaatkan waktu tersebut dengan baik.

10. Shoplifters (2018)

Shoplifters (IMDb)

“Apakah dengan melahirkan otomatis membuatmu menjadi seorang ibu?”

Film ini bercerita mengenai sebuah keluarga dari golongan kelas bawah yang memenuhi kebutuhan hidupnya dengan mengutili barang-barang di toko. Keluarga ini beranggotakan nenek, ayah, ibu, Aki, dan Shota yang hidup di sebuah rumah kecil milik neneknya. Suatu hari si ayah dan Shota (anak laki-lakinya) membawa pulang Juri, seorang anak kecil berusia 5 tahun yang merupakan anak broken home. Juri, diajarkan oleh anggota keluarga lainnya untuk menjadi pencuri. Hingga suatu hari, terdapat kabar bahwa Juri ada dalam pencarian orang hilang.

Shota lambat laun menyadari bahwa ia tak ingin hidup di keluarga seperti ini, dimana nilai-nilai moral yang diajarkan berbanding terbalik dengan nilai-nilai moral di kehidupan. Hingga suatu hari ia sengaja tertangkap saat mencuri jeruk di toko dan dari sini semua kehidupan keluarga ini berubah.

Film bergenre crime drama ini membawa penonton untuk dapat menyelami masalah-masalah sosial yang dialami oleh masyarakat kelas bawah mulai dari aspek ekonomi, pendidikan, keluarga hingga moral. Film ini memberikan pemahaman bahwa manusia memiliki dua sisi, sisi baik dan sisi jahat, sehingga untuk menentukan apakah seseorang baik atau jahat akan sulit. Konflik-konflik yang ada didalamnya juga mengkritisi permasalahan sosial dalam keluarga dimana ikatan darah sebenarnya tidak menjamin kehangatan atau keharmonisan dalam sebuah keluarga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here